BerandaKarya SantriEssayRebranding "Sarungan" sebagai Fashion Spiritualitas Tak Lekang Zaman

Rebranding “Sarungan” sebagai Fashion Spiritualitas Tak Lekang Zaman

Dipublikasikan pada

Saat Gus Dur jadi presiden, sarungan bukan hal tabu di istana negara. Memakai sarung, kopiah dan kadang didapati atau sesekali lewat di dalam istana negara, menjadi suatu hal yang wajar dalam irama detak kepemerintahan Gus Dur kala itu. Dalam hal ini, istana negara yang tampak selalu prosedural dan protokoler, faktanya menerima dengan terbuka budaya sarungan masuk ke istana negara.

Syahdan, dalam lanskap fashion global yang didominasi gaya Barat dan logika kapitalisme, sarung nyaris hanya tampil sebagai pakaian domestik. Ia akrab di masjid, surau, atau pesantren—tapi jarang mendapat tempat dalam diskursus busana kontemporer. Padahal, sarung bukan sekadar kain; ia adalah warisan kultural yang memuat identitas spiritual, kesederhanaan, dan perlawanan terhadap budaya konsumtif.

Rebranding sarung sebagai simbol fashion spiritualitas adalah ikhtiar untuk merestorasi makna terdalam dari busana itu sendiri. Dalam tradisi pesantren, sarung tidak hanya dikenakan karena nyaman, tapi karena ia mengandung makna adab: kesopanan, kebersahajaan, dan keterhubungan dengan laku ibadah. Dalam perspektif budaya Jawa dan Islam Nusantara, mengenakan sarung berarti merendah di hadapan Yang Mahakuasa.

Sarung adalah perwujudan dari konsep al-basatah (kesederhanaan), yang dalam banyak literatur tasawuf menjadi prasyarat lahirnya ketulusan ibadah. Spiritualitas dalam berpakaian inilah yang membedakannya dari tren fashion massal yang lebih mengutamakan kemewahan dan gaya hidup berlebih. Dalam konteks ini, sarung bisa dibaca sebagai kritik terhadap budaya konsumtif—yakni pakaian yang tidak butuh label untuk bermakna.

Dari sudut sosiologis, sarung merepresentasikan bentuk solidaritas kelas bawah yang tak banyak bicara, namun kuat dalam praktik sosial. Ia dikenakan dari emper masjid hingga mimbar khutbah. Dari sinilah muncul ide menjadikan sarung sebagai simbol persaudaraan dan kearifan lokal—local wisdom yang bisa ditawarkan ke dunia global tanpa kehilangan akarnya.

Beberapa desainer muda dan santri kreatif mulai mengadopsi pendekatan ini. Mereka mengolah sarung dalam bentuk jaket, totebag, atau baju muslim kontemporer yang tetap menjaga motif tradisional. Ini adalah bentuk glocalization—yaitu merespons globalisasi tanpa meninggalkan identitas lokal. Sebuah jalan tengah antara tren dan tradisi.

Rebranding ini juga dapat ditopang oleh kampanye kesadaran fashion etis, di mana sarung dijahit oleh UMKM lokal, memakai bahan ramah lingkungan, dan dijual dalam jaringan ekonomi digital. Dengan begitu, sarung menjadi bagian dari ekosistem industri busana berkelanjutan (sustainable fashion) yang berbasis nilai, bukan hanya tren sesaat.

Penting untuk dicatat bahwa dalam sejarah peradaban Islam, pakaian selalu menjadi bagian dari identitas spiritual. Imam Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menekankan pentingnya berpakaian dengan niat ibadah, bukan pamer. Maka, sarung sebagai busana pesantren layak dikembalikan ke panggung utama bukan karena gaya, tapi karena substansinya.

Tugas pesantren hari ini adalah memproduksi narasi baru tentang sarung. Bukan sekadar membela tradisi, tapi mengartikulasikannya dengan bahasa zaman. Seminar, konten digital, hingga fashion show ala santri bisa menjadi jalan promosi nilai, bukan hanya barang. Dengan demikian, sarung bukan hanya dikenakan, tapi dipahami dan dibanggakan.

Rebranding sarung adalah bentuk dakwah kultural yang halus tapi berdampak. Ia bukan sekadar fashion item, melainkan simbol perlawanan terhadap modernitas yang kehilangan spiritualitas. Karena di balik sehelai sarung, ada narasi ketundukan, kesederhanaan, dan kearifan yang tak lekang oleh zaman.[]

Bahan Bacaan:

  • Kuntowijoyo, 2005, Identitas Politik Umat Islam, Jakarta: Mizan.
  • Nurul Huda, 2021, “Fashion dan Religiusitas dalam Budaya Pop”, Jurnal Al-Qalam Vol. 27 No. 1.
  • Mike Featherstone, Scott Lash, dan Roland Robertson, 1995, Glocalization: Time-Space and Homogeneity-Heterogeneity, dalam Global Modernities, London: Sage Publications.

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Elastisitas Islam di Tengah Politik Ekspansi Sultan Agung

Ada pertanyaan yang cukup menarik dan bikin penasaran dari seorang pembaca. Bagaimana Islam dapat...