Sejarah
Masjid Pathok Negoro Mlangi adalah salah satu masjid yang memiliki nilai sejarah tinggi. Masjid ini terletak di Mlangi, Nogotirto, Gamping Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masjid ini merupakan salah satu Masjid Pathok Negoro yang ada di Wilayah Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Dibangun pada tahun 1758, masjid ini merupakan Masjid Pathok Negoro yang pertama kali dibangun. Kata Mlangi sendiri berasal dari kata ‘mulangi’, yang artinya dalam Bahasa Jawa adalah mengajar atau mendidik. Disebut demikian, karena “jalan kebudayaan” yang ditempuh masyarakat dalam berjuang menegakkan agama Islam adalah dengan pendidikan dan kebudayaan.
Pada zaman dahulu, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat membangun Masjid Pathok Negoro di tapal-tapal batas kerajaannya. Fungsi dari Masjid Pathok Negoro sendiri adalah sebagai pengadilan agama, dakwah Islam, pengembangan kebudayaan, dan untuk pendidikan atau kaderisasi. Tidak hanya itu, Masjid Pathok Negoro juga diyakini berfungsi sebagai benteng spiritual yang melindungi kerajaan.
Ide pembangunan Masjid Pathok Negoro sudah dimulai sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I. Orang yang menginisiasi Masjid Pathok Negoro adalah Kiai Nur Iman. Kiai Nur Iman adalah kakak dari Sri Sultan Hamengkubuwono I yang berbeda ibu. Beliau adalah putra tertua dari Raden Suryoputro atau Amangkurat IV dan istri pertamanya, yakni Dewi Susilawati, putri dari Untung Suropati.
Keduanya kemudian berbagi peran perjuangan. Kiai Nur Iman mempersilahkan Sri Sultan Hamengkubuwono I untuk berkuasa untuk meneruskan kerajaan warisan Walisongo tersebut. Sedangkan Kiai Nur Iman memilih jalan kebudayaan berupa kerja-kerja budaya, pendidikan agama, dan dakwah Islam. Atas dasar itu kemudian HB I memberi hadiah wilayah kerajaan di perbatasan sebagai sentrum perjuangan. Wilayah itulah yang kemudian menjadi Masjid Pathok Negoro Mlangi. Semasa hidupnya, beliau mengabdikan diri untuk menimba ilmu agama, mengajarkan, mendidik, dan berdakwah dengan masjid ini sebagai pusat kegiatannya. Kiai Nur Iman wafat dan dimakamkan di Kompleks Masjid Pathok Negoro Mlangi.
Fitur Bangunan Masjid
Terdapat hal-hal unik yang bisa dilihat dari bentuk masjid Mlangi. Masjid ini dibangun dalam pengaruh budaya Jawa yang sangat kuat. Masjid Pathok Negoro Mlangi menghadirkan suasana Keraton Yogyakarta yang kuat. Bentuk bangunan Masjid Pathok Negoro Mlangi sekilas menyerupai Masjid Gedhe di Kauman, Yogyakarta. Atap susun dua yang terletak di tengah bangunan menjadi salah satu ciri khas dari masjid ini. Tidak ketinggalan, menara masjid yang menjulang di kompleks masjid. Menariknya, bentuk bangunan semua masjid pathok negoro tidak akan jauh berbeda satu dengan yang lain.
Masjid Pathok Negoro Mlangi memiliki halaman yang luas dan rapi. Kita bisa berkeliling halaman ini untuk sekedar menikmati bangunan masjid yang unik. Di halaman ini juga terdapat Balai Masjid di sisi kanan dan kiri halaman. Bagi pengurus masjid, balai ini berfungsi untuk berbagai macam kegiatan seperti rapat-rapat, istirahat, menyiapkan konsumsi, dan ruang penyimpanan barang. Sebelum memasuki ruangan masjid, kita akan menemui kolam yang mengelilingi masjid. Kolam ini berfungsi untuk membersihkan kaki pengunjung masjid agar tidak ada kotoran dan najis yang masuk ke wilayah suci masjid. Selain itu, hal itu sebagai perlambang masjid sebagai tempat suci dan penyucian diri dari kotoran hati, sebagaimana ‘ars yang dikelilingi air. Setelah itu, kita akan menemui serambi masjid. Serambi ini biasa digunakan untuk pengajian, menerima tamu, dan penyelenggaraan acara-acara peringatan hari besar Islam. Lebih dalam lagi adalah ruang utama masjid. Di sini kita bisa melihat mimbar dan bedug masjid.
Salah satu daya tarik utama masjid ini adalah makam Kiai Nur Iman yang terletak di kompleks yang sama. Hingga saat ini, banyak pengunjung yang singgah untuk ziarah di makam Kiai Nur Iman. Letaknya berada di belakang bangunan utama masjid. Kompleks makam Kiai Nur Iman dibangun sedemikian rupa supaya peziarah bisa nyaman berziarah di sini.
