Masih ingat Nasrudin Hoja? Iyaa, tokoh sufi legendaris asal Anatolia ini dikenal bukan karena gelar akademis, tapi karena kejenakaannya yang penuh hikmah. Cerita-ceritanya kerap absurd, tapi justru dari absurditas itulah pelajaran moral muncul.
Nasrudin tak berkhotbah dengan ayat atau retorika berat. Ia berdakwah lewat humor. Misalnya, ketika ia mencari keledainya sambil naik keledai, orang-orang menertawakannya. Tapi ia menjawab, “Saya takut keledai ini hilang juga.” Konyol, tapi di sana ada refleksi tentang kehilangan fokus dan kelengahan manusia.
Gaya dakwah jenaka seperti ini sebenarnya sangat kontekstual di Indonesia. Masyarakat kita terbiasa dengan guyon santri, dagelan wayang, hingga humor Gus Dur. Pesan-pesan berat akan lebih mudah dicerna bila dibalut tawa. Dan memang, tawa adalah pintu masuk paling manusiawi untuk menyampaikan kebijaksanaan.
Dalam dakwah kontemporer, sosok seperti Gus Baha’, Cak Nun, dan bahkan Kang Maman Suherman sedikit banyak memiliki warna semangat Nasrudin Hoja. Mereka menyisipkan kritik sosial, etika agama, dan pesan spiritual dalam bungkus cerita, anekdot, dan bahasa rakyat. Tidak menggurui, tapi mengajak berpikir.
Publik menerima pendekatan ini dengan hangat. Konten dakwah yang ringan, satir, dan tidak menghakimi justru lebih viral dibanding ceramah keras penuh ancaman. Di TikTok, YouTube, hingga podcast, cerita ala Nasrudin hidup dalam berbagai bentuk baru. Ini bukti bahwa humor masih relevan sebagai alat syiar.
Gaya Nasrudin adalah dakwah dengan empati. Ia tidak menjadikan audiens sebagai objek untuk disalahkan, melainkan diajak tertawa bersama atas kebodohan manusia yang universal. Model ini cocok dengan budaya Indonesia yang egaliter, guyub, dan terbiasa dengan kritik halus melalui sindiran.
Dalam konteks sosio-politik, pendekatan semacam ini juga aman. Tidak frontal, tapi menusuk. Di tengah ketegangan identitas dan polarisasi wacana keagamaan, pendekatan hikmah ala Nasrudin memberi jalan keluar: berdakwah tanpa permusuhan, mengajak tanpa memaksa.
Namun, tentu ada tantangan. Dakwah jenaka rawan disalahpahami sebagai tidak serius. Tapi justru di sanalah seninya: menyampaikan sesuatu yang mendalam dengan cara yang tampak ringan. Butuh intelektualitas yang matang dan spiritualitas yang lembut untuk bisa seperti Nasrudin.
Kini, saat algoritma media sosial lebih menyukai konten cepat dan menghibur, gaya Nasrudin Hoja relevan kembali. Ia adalah juru dakwah era 5.0 yang sudah lahir ratusan tahun lalu. Hanya satu yang berubah: keledainya kini mungkin bernama YouTube.[]
