BerandaKarya SantriArtikelMlangi dan Pengelolaan Lingkungan Sehat Berkelanjutan

Mlangi dan Pengelolaan Lingkungan Sehat Berkelanjutan

Dipublikasikan pada

Kampung Mlangi, yang terletak di area barat ringroad barat Yogyakarta, bukan hanya dikenal sebagai sentra pendidikan pesantren, tetapi juga sebagai komunitas yang menyadari pentingnya pengelolaan lingkungan sehat. Dengan populasi santri dan warga yang padat, kesadaran ekologis menjadi keniscayaan. Salah satu praktik nyata yang berkembang adalah pengelolaan sampah mandiri berbasis komunitas. Inisiatif ini muncul dari kebutuhan dan nilai agama yang menekankan kebersihan sebagai sebagian dari iman.

Tradisi gotong royong di Mlangi menjadi fondasi sosial untuk mewujudkan program daur ulang dan pemilahan sampah di sejumlah titik padat santri. Warga dan santri, melalui majelis taklim, koperasi, dan karang taruna, secara bertahap membentuk sistem edukasi lingkungan berbasis pesantren. Gerakan ini sejalan dengan nilai-nilai fiqih lingkungan (fiqh al-bi’ah), yang menekankan bahwa menjaga bumi adalah amanah bagi umat manusia.

Pesantren-pesantren seperti Aswaja Nusantara, Al-Miftah dan Al-Falahiyah bahkan telah mendorong para santri untuk aktif dalam program bank sampah, pemanfaatan limbah organik sebagai kompos, dan gerakan minim plastik. Program ini dikelola bersama oleh warga dan santri, melibatkan pendidikan praktis serta penyuluhan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman. Mereka membuktikan bahwa pendidikan agama dan ekologi bisa berjalan beriringan.

Secara sosial budaya, kebersihan bukan hanya soal fisik, tapi mencerminkan ketertiban batiniah. Dalam perspektif tasawuf Jawa, ketertiban lahir adalah pantulan dari jiwa yang tenang. Maka, budaya menjaga kebersihan lingkungan adalah bagian dari suluk kehidupan. Hal ini selaras dengan tradisi Islam Mataram yang membingkai adab dan kebersihan sebagai kesatuan akhlak (al-akhlāq al-karīmah).

Tantangan utama adalah membangun kesadaran kolektif dan keberlanjutan. Oleh sebab itu, pengelolaan lingkungan harus dimaknai sebagai bagian dari pendidikan karakter pesantren. Pendekatan berbasis nilai-nilai Qur’ani, seperti la tufsidu fil-ardh (QS. Al-Baqarah: 60), menjadi pondasi teologis bahwa kerusakan lingkungan adalah pengingkaran terhadap amanah kekhalifahan manusia di bumi.

Pengalaman Kampung Mlangi bisa menjadi studi kasus tentang integrasi pendidikan agama dan kepedulian ekologis. Apalagi, dalam konteks SDGs (Sustainable Development Goals), gerakan ini sejalan dengan tujuan ke-11 (kota dan permukiman berkelanjutan) dan tujuan ke-12 (konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab). Santri, sebagai generasi penerus, bukan hanya mewarisi ilmu, tapi juga bumi yang lestari.

Dalam konteks pesantren, pendidikan lingkungan harus menjadi bagian dari kurikulum nonformal. Misalnya, praktik membuat kompos bisa dimasukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler; khutbah Jumat bisa menyentuh isu ekologi; atau bahkan, ushul fiqh bisa dikaitkan dengan kaidah dar’u al-mafāsid (mencegah kerusakan). Ini bentuk aktualisasi nilai Islam yang tidak hanya normatif tapi juga kontekstual.

Kampung Mlangi telah menampakkan potensi sebagai eco-santri village. Dengan pendekatan partisipatif dan berbasis lokal, program lingkungan bisa tumbuh dari akar komunitas, bukan sekadar dari regulasi atas. Menjadikan kampung santri sebagai pelopor perubahan perilaku adalah langkah strategis untuk memperkuat narasi Islam sebagai rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘ālamīn).

Dan tentu saja, inisiatif ekologis warga dan pesantren di Mlangi menjadi bukti bahwa keberagamaan yang berakar kuat tidak hanya membentuk manusia saleh secara ritual, tapi juga saleh ekologis. Untuk itu, perlu dokumentasi, riset lanjut, dan kemitraan antar-pesantren, dinas pemerintah, serta perguruan tinggi agar transformasi ini bisa ditiru di kampung-kampung pesantren lain di Indonesia.[]

Bahan Bacaan:
M. Dian Nafi’ (Ed.), 2008, Fikih Lingkungan, Jakarta: LP3ES & LAKPESDAM NU.
Dzulkifli Hadi Imawan, 2020, “Kampung Santri dan Ekologi Sosial di Mlangi” dalam Millah: Jurnal Studi Agama, UII.
Quraish Shihab, 2011, Wawasan al-Qur’an, Jakarta: Mizan.
Fathur Wahyudi, 2021, “Bank Sampah Berbasis Pesantren: Studi Kasus di Sleman” alam Jurnal Sosioteknologi UGM, Vol. 18.

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Elastisitas Islam di Tengah Politik Ekspansi Sultan Agung

Ada pertanyaan yang cukup menarik dan bikin penasaran dari seorang pembaca. Bagaimana Islam dapat...