BerandaKarya SantriArtikelSeandainya Pesantren Bikin Podcast Ngaji Laku

Seandainya Pesantren Bikin Podcast Ngaji Laku

Dipublikasikan pada

Tak bisa dipungkiri, gelombang arus konten digital yang serba cepat dan kadang dangkal, podcast muncul sebagai oase reflektif. Tak heran jika generasi Z kini banyak mendengarkan diskusi-diskusi santai dari balik layar, entah saat menyeduh kopi atau sebelum tidur. Tapi bayangkan sejenak, seandainya pesantren bikin podcast bertajuk “Ngaji Laku”—apakah yang akan terjadi? Apakah memiliki dampak signifikan?

“Ngaji Laku” bukan podcast ceramah seperti biasanya. Bukan pula tausiah bertempo cepat. Ia hadir sebagai ruang audio yang lembut tapi dalam. Isinya bukan sekadar hukum fiqih, tapi lebih pada bagaimana hidup dijalani secara eling dan waspada, sebagaimana diajarkan dalam suluk dan tasawuf. Ini adalah “ngaji” tentang menjadi manusia seutuhnya, bukan hanya tahu halal-haram, tapi juga sadar etika dan akhlak.

Dalam dunia yang bising dan penuh gimik, Ngaji Laku bisa dtampilkan secara lirih tapi merasuk. Misalnya, membahas bagaimana menghadapi sakit hati di sosial media menurut Imam al-Ghazali. Atau tentang sabar dalam antre KRL yang disambungkan ke konsep suluk sabar ala Abu Yazid al-Busthami. Inilah suluk yang disampaikan dalam bahasa warganet: ringan tapi menggetarkan.

Fenomena ini selaras dengan hasil penelitian Oxford Internet Institute (2022) yang menyebut media audio kini menjadi sarana edukasi paling intim bagi generasi muda. Mereka merasa diajak ngobrol, bukan digurui. Ini peluang besar bagi pesantren yang selama ini dikenal kaya dalam warisan keilmuan dan laku hidup sederhana—sayangnya belum terwakili dalam ruang digital yang dialogis.

Bagi pesantren, membuat podcast Ngaji Laku bisa menjadi jembatan baru. Santri—yang selama ini dianggap gaptek—bisa tampil sebagai pendakwah era audio, membincang nilai-nilai adab dalam format storytelling. Kyai muda bisa berbagi pengalaman spiritual tanpa harus berdiri di mimbar, cukup dari balik mikrofon.

Podcast ini pun bisa menjadi “ngaji budaya”, menyambungkan ngalap berkah dengan tren slow-living, atau menjelaskan tirakat dalam bingkai self-discipline. Ini akan menjadi laboratorium sosial-budaya yang mempertemukan pesantren dengan masyarakat urban. Dialog lintas dunia, yang selama ini terpisah tembok, kini bisa menyatu di platform Spotify atau Apple Podcast.

Beberapa pesantren di Jawa Timur sebenarnya sudah mulai menyusup ke dunia digital, seperti Pondok Pesantren Tebuireng yang aktif di kanal YouTube. Namun, ruang audio yang bebas dari tuntutan visual justru bisa menjadi keunggulan. Podcast adalah bentuk baru “wirid digital”, yang tak perlu jubah tapi cukup hati yang terbuka.

“Ngaji Laku” tak harus diasuh oleh kyai saja. Bisa saja ada segmen ngaji bareng alumni pesantren yang jadi barista, atau santri yang nyambi stand-up comedy. Yang penting adalah kejujuran dalam laku, bukan kepalsuan dalam retorika. Ini yang membuat podcast tersebut punya daya jangkau lintas generasi.

Dalam perspektif sosiologi agama, seperti dijelaskan Clifford Geertz dalam The Religion of Java, agama di Jawa hidup dalam bentuk praktik sosial yang mengendap dalam keseharian. Maka podcast ini bukan sekadar kanal dakwah, tapi medium pelestarian nilai-nilai sufistik dalam konteks kekinian—yakni budaya digital.

Maka seandainya banyak pesantren bikin Podcast Ngaji Laku, itu bukan hanya soal konten, tapi soal mengubah cara kita memandang dakwah. Dari yang semata lisan jadi renungan. Dari yang hanya menasihati jadi mengajak ngobrol. Dari yang berkotbah jadi menemani. Sebuah suluk digital yang layak dicoba untuk zaman yang haus makna.[]

Bahan Bacaan:

  • Clifford Geertz, 2014, Agama Jawa, Abangan, Santri, Priyayi, Dalam Kebudayaan Jawa, Depok, Komunitas Bambu.
  • Nic Newman, 2022, Journalism, Media, And Technology Trends and Predictions 2022, dalam reutersinstitute.politics.ox.ac.uk.
  • Oxford Internet Institute, 2022, Digital Audio Learning Trends among Gen Z, dalam reutersinstitute.politics.ox.ac.uk.
  • Tatik Yuniarti, Dkk (et.al), 2025, Transformasi Komunikasi Digital Menuju Indonesia Berkelanjutan: Tren Dan Masa Depan Komunikasi Digital, Jakarta: Elex Media Komputindo.

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Elastisitas Islam di Tengah Politik Ekspansi Sultan Agung

Ada pertanyaan yang cukup menarik dan bikin penasaran dari seorang pembaca. Bagaimana Islam dapat...