BerandaKarya SantriArtikelMenundukkan Ego dalam Musyawarah: Perspektif Etika dan Budaya

Menundukkan Ego dalam Musyawarah: Perspektif Etika dan Budaya

Dipublikasikan pada

Musyawarah, dalam khazanah Islam dan budaya pesantren, bukan sekadar forum tukar pendapat, tetapi ladang latihan etika dan adab. Dalam tradisi pesantren, musyawarah bukan ajang siapa yang paling keras bicara, melainkan siapa yang paling rendah hati dan siap mendengar. Ini selaras dengan nilai tawadhu’ yang diajarkan dalam banyak kitab etik klasik, seperti Ta’lim al-Muta’allim, bahwa keberkahan ilmu dan keputusan muncul dari ketundukan hati, bukan dominasi ego.

Etika dalam musyawarah bukan formalitas basa-basi, tetapi refleksi dari kedewasaan spiritual. Santri, misalnya, dilatih tidak menyela, tidak memotong, dan tidak memaksakan kehendak. Sebab, dalam kerangka adab, pendapat bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dipertemukan. Ini sejalan dengan pemikiran KH. Abdurrahman Wahid (1999) yang menekankan bahwa demokrasi ala pesantren selalu berbasis kesediaan mendengar dan merangkul perbedaan, bukan menghancurkannya.

Secara sosiologis, kemampuan menahan ego dalam musyawarah adalah indikator kedewasaan sosial. Seorang individu yang mampu mendengar dan menimbang pendapat berbeda menunjukkan kematangan interaksi yang tinggi. Menurut sosiolog Emile Durkheim, nilai kolektif dalam komunitas tradisional, termasuk pesantren, terbentuk dari ritual-ritual sosial semacam musyawarah yang membentuk kohesi dan solidaritas.

Menariknya, budaya musyawarah di pesantren juga mengandung nilai pedagogis: melatih santri berpikir sistematis, menyampaikan gagasan secara logis, dan siap menerima sanggahan. Semua ini terjadi dalam koridor kesopanan. Maka tak heran, banyak kyai menjadikan forum musyawarah sebagai ruang latihan kepemimpinan santri—bukan sekadar ajang wacana, melainkan kawah candradimuka adab dan intelektual.

Dalam praktiknya, musyawarah juga menjadi arena pendidikan karakter yang sulit ditemukan di ruang digital saat ini. Budaya debat daring hari ini, yang lebih menonjolkan ego dan menang-menangan, seringkali kontras dengan tradisi musyawarah pesantren. Seperti disindir oleh Nurcholish Madjid, demokrasi bukanlah “hanya soal suara terbanyak,” tetapi tentang “jiwa terbuka untuk belajar dari yang berbeda.”

Menundukkan ego dalam musyawarah adalah bentuk jihad personal. Dalam konteks ini, Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menyebut, “nafsu ingin menang” sebagai salah satu penghalang utama dalam mencari kebenaran. Maka dalam diskusi, kemenangan bukan ketika pendapat diterima, tapi saat diri mampu menahan nafsu ingin diakui paling benar.

Etika bermusyawarah juga sangat penting dalam konteks kebangsaan. Ketika elit politik sibuk saling sikut dan rakyat dijejali debat panas tanpa arah, tradisi musyawarah ala pesantren justru menawarkan model alternatif: forum diskusi penuh adab yang melatih jiwa kolektif dan kepekaan sosial. Ini membuktikan bahwa warisan budaya lokal bisa menjadi rujukan praktik demokrasi substansial, bukan prosedural belaka.

Karena itu, perlu adanya revitalisasi musyawarah sebagai metode pendidikan dan pembentukan karakter pemimpin bangsa. Dengan menghidupkan kembali semangat menundukkan ego, menghormati perbedaan, dan merumuskan kebijakan secara kolektif, maka musyawarah tak hanya relevan secara etik, tapi juga strategis secara sosiopolitik.

Sebagai penutup, musyawarah bukan sekadar diskusi, melainkan ritual budaya spiritual untuk meredam ego dan menajamkan empati. Di era gaduh seperti sekarang, model musyawarah penuh adab ala pesantren bisa menjadi teladan. Ia mendidik kita bahwa menjadi benar tidak cukup, tetapi harus juga tahu cara yang baik untuk menyampaikan dan menerima kebenaran itu. Sebuah pelajaran adiluhung yang tak lekang oleh zaman.[]

Bahan Bacaan:

  • Az-Zarnuji, Ta’līm al-Muta’allim Ṭarīq at-Ta‘allum, Dar al-Fikr.
  • Abdurrahman Wahid, 1998, Tabayyun Gus Dur: Pribumisasi Islam,Hak Minoritas, Reformasi Kultur, Yogyakarta: LKiS.
  • Emile Durkheim, 2017, The Elementary Forms of Religious Life: Bentuk-Bentuk Dasar Kehidupan Beragama, Yogyakarta: Ircisod.
  • Nurcholish Madjid, 1992, Islam, Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Yayasan Paramadina

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Elastisitas Islam di Tengah Politik Ekspansi Sultan Agung

Ada pertanyaan yang cukup menarik dan bikin penasaran dari seorang pembaca. Bagaimana Islam dapat...