BerandaKarya SantriEssayKyai sebagai Influencer Etik dan Akhlak

Kyai sebagai Influencer Etik dan Akhlak

Dipublikasikan pada

Di tengah gegap gempita media sosial yang melahirkan tokoh-tokoh viral instan, ruang publik kita kian bising oleh selebritas tanpa nilai. Popularitas menggantikan keteladanan, dan sensasi mengalahkan substansi. Dalam lanskap inilah, sosok kyai perlu dihadirkan kembali sebagai figur publik yang mengusung etika, bukan sekadar opini.

Frans Magnis-Suseno dalam Etika Politik menegaskan bahwa etika bukan sekadar norma sosial, tapi panggilan moral untuk bertindak demi kebaikan bersama (Magnis-Suseno, 1987). Kyai, dengan kharisma dan ilmunya, memiliki posisi strategis sebagai penjaga nalar etik dalam masyarakat yang semakin digital dan instan.

Di banyak pesantren, kyai adalah pusat otoritas moral. Mereka bukan hanya pengajar kitab, tetapi juga teladan hidup. Dalam masyarakat yang kehilangan panutan, kehadiran kyai justru menjadi jangkar spiritual dan sosial. Mereka membumikan nilai melalui laku, bukan sekadar ceramah.

Peran kyai sebagai “influencer etik” berakar dalam budaya pesantren yang memadukan ilmu, akhlak, dan kearifan lokal. Kyai tidak mencari panggung, tetapi menjadi panggung bagi nilai-nilai kemanusiaan. Di sinilah perbedaan antara viralitas dan vitalitas moral.

Kyai sejati mengajak bukan karena ingin diikuti, tapi karena ingin masyarakat menemukan jalan kebajikan. Ini sejalan dengan prinsip etika deontologis: bahwa tindakan baik bukan karena akibatnya, tetapi karena memang wajib dilakukan (Kant, 2022).

Sosial media hari ini membuka peluang bagi kyai untuk memperluas dakwah etik secara digital. Namun tantangannya bukan hanya soal platform, tapi keberanian menjaga integritas dalam arus pragmatisme. Kyai bukan sekadar membuat konten, tetapi membangun kesadaran etik kolektif.

Kita membutuhkan figur publik yang bukan hanya “relatable”, tetapi juga “reliable”. Kyai, dengan fondasi spiritual dan sosialnya, bisa menjadi contoh publik yang menginspirasi kesadaran diri, bukan eksploitasi emosi.

Di ruang publik Indonesia, kyai idealnya hadir sebagai penyeimbang dari populisme yang dangkal. Mereka menjadi narator kebangsaan yang merawat nalar waras: menjembatani agama dan kemanusiaan, tradisi dan kemajuan.

Maka, membangun narasi alternatif tentang publik figur hari ini berarti menempatkan kembali kyai dalam ruang publik. Bukan dengan menggantikan konten viral, tetapi dengan menawarkan alternatif nilai yang tahan uji waktu dan menyejukkan akal.

Dalam konteks ini, kyai bukan sekadar pemuka agama, tetapi penjaga kesadaran moral bangsa. Ia bukan buzzer nilai, tapi pejalan sunyi yang menanam kebijaksanaan—sedikit bicara, tapi dalam makna. Dan dalam sunyi itu, publik belajar menjadi manusia.[]

Bahan Bacaan:

  • Frans Magnis-Suseno, 1987, Etika Politik: Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern, Jakarta: Gramedia.
  • Immanuel Kant, 2022, Dasar-Dasar Metafisika Moral, Yogyakarta: Insight Refference.
  • Zamakhsyari Dhofier. Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES, 1985.
  • Ahmad Safi’i, 2021, Etika Islam dalam Masyarakat Digital, Yogyakarta: LKiS.

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Elastisitas Islam di Tengah Politik Ekspansi Sultan Agung

Ada pertanyaan yang cukup menarik dan bikin penasaran dari seorang pembaca. Bagaimana Islam dapat...