Di zaman gulir cepat dan swipe tanpa ampun, dakwah tak cukup hanya duduk di mimbar atau berdiri di podium. TikTok, aplikasi yang dahulu dituduh merusak moral remaja, kini menjadi ladang baru yang subur—bukan untuk tarian semata, tapi juga dakwah. Namun, tantangannya jelas: bagaimana menyampaikan Islam dalam durasi 60 detik tanpa melucuti nilainya?
Fenomena ini menuntut pendekatan kreatif. Dominasi konten instan dan hiburan menjadikan Islam harus disampaikan dengan bahasa visual, bukan verbal panjang yang menguap. Di sinilah tasawuf dan akhlak hadir sebagai pilihan dakwah yang elegan—ringan tapi menghunjam. Narasi sederhana seperti “sabar itu tidak diam, tapi menahan diri dari membalas” bisa lebih membekas daripada ceramah 3 jam.
TikTok memaksa pendakwah untuk merangkum esensi dalam tempo cepat. Tapi cepat tidak harus cetek. Dakwah bisa dikemas dengan estetika: musik latar yang lembut, visual temaram, dan kata-kata yang dirangkai seperti puisi. Semacam hikam digital. Di sinilah dakwah bertemu sastra dan seni visual—sebuah kombinasi yang tidak disangka bisa menyentuh.
Fenomena seperti Ustadz Hanan Attaki atau akun-akun seperti @sajadahdigital menunjukkan bahwa anak muda tidak alergi pada agama. Mereka hanya bosan pada bentuk penyampaian yang kuno. Pendekatan TikTok memberi jalan baru: bahwa Islam bukan agama masa lalu, tapi masa kini dan masa depan—selama ia bisa disampaikan dalam bahasa yang mereka pahami.
Secara sosial, ini adalah bentuk adaptasi dakwah dengan budaya pop. Alih-alih menolak teknologi, Islam hadir membimbing penggunaannya. Dalam bingkai politik kultural, ini adalah strategi merebut ruang wacana dari dominasi konten nihil makna. Seperti yang diingatkan oleh Pierre Bourdieu, medan budaya selalu diperebutkan, dan TikTok adalah medan baru itu.
Tentu, bukan berarti semua konten religius langsung berkualitas. Ada juga jebakan clickbait syariah, yang menjual emosi tanpa isi. Maka, mensyiarkan Islam via TikTok harus tetap menyandarkan diri pada rujukan otoritatif, seperti Al-Ghazali, Ibn Athaillah, atau bahkan Kuntowijoyo. Dakwah singkat pun tetap butuh kedalaman sumber.
Penting juga mengingat bahwa tujuan dakwah bukan sekadar viral, melainkan perubahan perilaku. Maka perlu konsistensi narasi yang mengarah pada pembentukan akhlak, bukan hanya like dan comment. Karena, seperti kata Buya Hamka, “agama bukan hanya ucapan, tapi perbuatan.” TikTok bisa menjadi pintu, tapi perjalanan tetap harus ditempuh dengan laku.
Revitalisasi dakwah di platform ini juga menuntut regenerasi dai. Kita butuh pendakwah muda yang fasih berselancar dalam algoritma, tapi tetap tunduk pada hikmah. Mereka harus paham tren, tapi tidak tenggelam dalam tren. Inilah generasi sufi digital: lembut dalam penyampaian, teguh dalam prinsip.
Akhirnya, mensyiarkan Islam lewat TikTok bukanlah pengkhianatan nilai, tapi perluasan makna. Jika dahulu hikmah disampaikan lewat kitab dan surau, kini juga bisa melalui scroll dan filter. Yang penting, esensinya tetap: menyentuh hati, menggerakkan jiwa, dan menanamkan cinta pada kebaikan.[]
Bahan Bacaan:
- Ibn Athaillah, 2010, Al-Hikam. Terjemahan KH. Mustofa Bisri, Yogyakarta: LKiS.
- Kuntowijoyo, 1997, Identitas Politik Umat Islam, Jakarta: Mizan.
- Hamka, 1982, Tasawuf Modern, Jakarta: Bulan Bintang.
- Haryatmoko, 2003, Menyingkap Kepalsuan Budaya Penguasa; Landasan Teoritis Gerakan Sosial Menurut Pierre Bordien dalam Basis No.11-12 Th. Ke-52, Yogyakarta.
- Nurani Soyomukti, 2010, Teori-Teori Pendidikan, Bandung: Ar-Ruzz Media.
