BerandaKarya SantriArtikelPesantren di Mlangi: Kearifan Lokal dalam Retorika Keagamaan Santri dan Kiai

Pesantren di Mlangi: Kearifan Lokal dalam Retorika Keagamaan Santri dan Kiai

Dipublikasikan pada

Cobalah menginap di Mlangi barang tiga hari, di sana dakwah bukan sekadar ceramah; ia adalah seni menyampaikan makna lewat rasa, bukan sekadar logika. Bahasa yang dipilih para kyai dan santri bukan sembarang tutur, tetapi bagian dari warisan kultural yang menyatu dengan nadi masyarakat. Penggunaan bahasa Jawa halus—krama inggil—menjadi strategi simbolik untuk menanamkan nilai adab dan takzim, bukan hanya kepada Tuhan, tapi juga kepada sesama (Geertz, 2014).

Kearifan lokal ini tak sekadar kosmetik linguistik. Ia adalah instrumen sosial politik yang menyaring ketegangan ideologis menjadi dialog kultural. Saat dunia luar gaduh oleh narasi keagamaan yang keras dan bising, para kiai Mlangi menyisipkan pesan lewat peribahasa, tembang, dan lelucon yang menyentuh rasa. Ini bukan bentuk kelembekan, tapi kecerdasan retoris yang memahami karakter masyarakatnya.

Bahasa dakwah Mlangi membangun kedekatan, bukan dominasi. Kiyai tidak berjarak dari jamaahnya. Dalam logika Mlangi, dakwah tidak sedang menggurui, tapi menyambung hati—ngemong, bukan ngendiko belaka. Sebagaimana peran-peran yang pernah digelar kisah Sunan Kalijaga (Munawar J. Khaelani, 2018), kekuatan simbolik bahasa lokal terbukti lebih merasuk daripada bahasa teknokratik modern yang kaku.

Simbol-simbol budaya, seperti kisah Panembahan Senopati atau serat-serat Jawa klasik, sering digunakan untuk menjembatani ajaran Islam dengan warisan lokal. Ini adalah bentuk perlawanan lunak terhadap hegemoni Arabisasi yang sering mengikis identitas kultural pesantren Nusantara. Rujukan keilmuan dan argumentasi para kyai Mlangi menghidupkan Islam sebagai tradisi, bukan sekadar teks.

Lebih jauh, pendekatan humoris dalam ceramah menjadi kanal penting untuk menurunkan ketegangan spiritual. Santri diajak tertawa, bukan agar melupakan dosa, tetapi agar tidak putus asa dari rahmat-Nya. Humor dalam dakwah adalah bentuk kearifan—bahwa kebenaran tidak selalu datang dalam bentuk amarah.

Dalam bingkai sosial politik, bahasa tutur menyampaikan suatu gagasan dan ragam peristiwa adalah taktik negosiasi yang canggih. Ia membangun stabilitas sosial dengan menjadikan pesan agama sebagai perekat, bukan pemecah. Di tengah polarisasi yang meningkat akibat kontestasi wacana agama di ruang publik, dakwah Mlangi tampil sebagai suara tengah yang menenangkan.

Santri dan kyai Mlangi menjadikan bahasa sebagai alat pemberdayaan, bukan dominasi. Kekuatan mereka tidak terletak pada volume suara, tapi pada kedalaman makna. Dalam konteks ini, dakwah menjadi alat rekonsiliasi sosial, membentuk kesadaran religius yang membumi dan membebaskan, bukan menakutkan.

Bahasa tutur antara kyai dan santri Mlangi juga mencerminkan politik inklusi. Tidak ada alienasi terhadap masyarakat awam, karena tuturannya merangkul. Retorika dakwah tidak membagi antara yang suci dan yang najis secara sosial. Semua diajak pulang ke rahmat, bukan diusir dari ampunan.

Pendekatan sosial kultural di Mlangi, dengan segala kelembutan bahasanya, justru menjadi kekuatan keras dalam merawat keberagaman. Ia bukan sekadar pesan religi, tapi juga kritik sosial yang dibalut tawa, teguran yang ditanam dalam peribahasa, dan ajakan yang bergaung dalam tembang. Sebuah strategi wacana yang melampaui zaman.[]

Bahan Bacaan:

  • Clifford Geertz, 2014, Agama Jawa, Abangan, Santri, Priyayi, Dalam Kebudayaan Jawa, Depok, Komunitas Bambu
  • Munawar J. Khaelany, 2018, Sunan Kalijaga Guru Suci Orang Jawa; Kisah Dan Sejarah Perjalanan Makrifat Sunan Kalijaga, Jakarta: Gramedia.
  • Achmad Chodjim, 2003, Sunan Kalijaga; Mistik Dan Makrifat, Jakarta: Serambi.

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Elastisitas Islam di Tengah Politik Ekspansi Sultan Agung

Ada pertanyaan yang cukup menarik dan bikin penasaran dari seorang pembaca. Bagaimana Islam dapat...