Dalam denyut religius masyarakat Mataram, pesantren bukan sekadar institusi pendidikan, tetapi juga ruang kontemplatif yang menghidupkan dimensi batin Islam. Di ruang ini, tarekat-tarekat seperti Naqsyabandiyah, Qadiriyah dan Syattariyah tumbuh bukan sebagai gerakan tertutup, tetapi sebagai simpul spiritualitas yang menyatu dalam kehidupan pesantren. Bukan kebetulan jika banyak pesantren tua di wilayah Mataram berdiri beriringan dengan pusat aktivitas tarekat.
Simbiosis antara tarekat dan pesantren tidak bersifat formalistik, melainkan kultural. Kyai, sebagai figur sentral, tak hanya berperan sebagai pengajar kitab kuning, tapi juga mursyid yang membimbing laku spiritual murid-muridnya. Mereka mengajarkan bukan hanya fikih dan nahwu, tapi juga zikir dan fana’. Dari surau ke serambi, ilmu dan dzikir menyatu dalam denyut keseharian.
Ritual tarekat seperti dzikir jahr, manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dan haul para wali menjadi denyut kolektif yang menautkan pesantren dengan masyarakat sekitar. Haul tak sekedar memperingati kematian, melainkan merawat memori spiritual bersama. Dzikir bersama menjadi penjernih batin, sementara manaqib menjadi narasi yang meneguhkan harapan hidup dalam keteladanan.
Tidak sedikit pesantren di wilayah Mataram yang menjadi pusat tarekat. Di pesantren-pesantren ini, silsilah tarekat dilestarikan melalui ijazah lisan, kitab-kitab tazkiyah al-nafs, dan pengamalan wirid yang terstruktur.
Secara antropologis, tarekat menjelma sebagai ruang afeksi: ruang di mana Islam tak melulu rasional, tetapi juga transenden. Inilah bentuk Islam yang hidup dalam tradisi, bukan terkurung dalam dogma. Dimensi ini memperhalus hubungan antara santri dan guru, antara masyarakat dan pesantren, antara spiritualitas dan kehidupan sehari-hari.
Tak dapat diabaikan, relasi tarekat dengan kekuasaan juga bersifat simbiotik. Banyak mursyid yang menjadi penasehat spiritual para penguasa keraton. Tarekat Syattariyah, misalnya, pernah menjadi kanal legitimasi spiritual bagi Sultan, sebagaimana terlihat dalam praktik tirakat sebelum penobatan. Kekuasaan menyerap karisma spiritual, dan spiritualitas memperoleh perlindungan politik.
Namun relasi ini tidak mutlak subordinatif. Tarekat juga menjadi ruang resistensi kultural. Di masa kolonial, banyak jaringan tarekat di pesantren Mataram menjadi simpul gerakan bawah tanah—melalui jaringan zikir dan jamaah yang sulit dideteksi penjajah. Ini menegaskan bahwa tarekat bukan sekadar ritual, melainkan juga narasi perjuangan.
Kini, ketika modernisme menggempur dunia pesantren dengan teknologi dan efisiensi, keberadaan tarekat tetap menjadi reservoir spiritualitas. Santri yang sibuk dengan hafalan tetap diajak khusyuk dalam dzikir khatam al-Qur’an. Kyai yang mengajar logika tetap memberi ijazah wirid. Tarekat menjaga sisi manusiawi pendidikan Islam: bahwa ilmu bukan sekadar tahu, tapi juga rasa dan laku.
Mataram, dalam hal ini, bukan hanya nama wilayah, tetapi paradigma hidup. Di sini tarekat dan pesantren tidak bertarung, tapi bersenyawa. Mereka menanamkan spiritualitas yang halus, konsisten, dan membumi—membentuk umat yang tidak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga jernih hatinya.[]
Bahan Bacaan:
- Annemarie Schimmel, 2000, Dimensi Mistik dalam Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus.
- A. Muhaimin Zuhri, 2006, Islam dalam Bingkai Budaya Lokal, Yogyakarta: LKIS.
- Martin van Bruinessen, 2002, Pesantren dan Kitab Kuning: Pemeliharaan dan Kesinambungan Tradisi Pesantren, Jakarta, Jurnal Ulumul Qur’an, Vol.III, No.4.
- M.C. Ricklefs, 2013, Mengislamkan Jawa; Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 Sampai Sekarang, Jakarta: Serambi.
- Zamakhsyari Dhofier, 1982, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES.
