Di tanah Jawa, Islam tak datang sebagai gelombang keras, tapi mengalir seperti air yang bijak memilih celah. Era Mataram Islam (abad ke-16 hingga ke-18) adalah bukti paling utuh bahwa dakwah dan kekuasaan bisa saling bernegosiasi—kadang mesra, kadang tegang. Di tengah gempita kerajaan agraris yang memuja harmoni kosmos, ajaran tauhid menyusup dalam aroma wangi dan tabuhan gamelan.
Raja Mataram bukan hanya pemimpin politik, tapi juga penanda spiritual. Ia bertakhta bukan semata atas legitimasi darah, tetapi juga atas restu langit dan—yang makin penting sejak era Panembahan Senopati—dukungan para ulama. Di sinilah relasi kuasa dan dakwah menjadi dialektik: ulama memberi restu ideologis; keraton memberi ruang praksis.
Panembahan Senopati, dalam mitos Babad Tanah Jawi, disebutkan melakukan laku tirakat dan semedi di pantai selatan sebelum mendirikan kerajaan. Islam yang diperkenalkannya bukan versi Arab yang keras, tapi versi Jawa yang lembut. Masjid didirikan berdampingan dengan pendapa; pengajian berjalan beriringan dengan tarian Bedhaya. Ini bukan kontradiksi, tapi strategi dakwah kultural yang canggih.
Para ulama seperti Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan berperan bukan hanya sebagai guru agama, tetapi sebagai arsitek budaya Islam Jawa. Santri tak hanya ngaji kitab, tapi juga menjadi juru dakwah keliling, menyebar Islam lewat seni, pertunjukan, bahkan nama-nama tempat. Islam menjelma dalam lakon wayang, dalam tembang macapat, dalam selametan yang berkahnya dipercaya sampai sawah.
Namun, tentu saja tak semua berlangsung damai. Ada gesekan antara Islam normatif—yang menekankan syariat murni—dan Islam lokal yang masih bersenyawa dengan unsur tradisi. Wujudnya bisa berupa konflik tafsir atas tahlilan, maulidan, atau bahkan bentuk masjid. Ulama yang dekat keraton cenderung kompromis, sementara sebagian yang lain lebih skripturalis.
Kekuatan Mataram dalam merangkul Islam ada pada kemampuannya menjadikan dakwah sebagai bagian dari narasi kekuasaan. Ritual Grebeg, misalnya, merupakan bentuk “islamisasi” atas tradisi Hindu-Buddha sebelumnya. Tapi di tangan para abdi dalem dan penghulu keraton, Islam mendapat panggung sahnya sendiri. Tradisi menjadi cara mengislamkan, bukan melenyapkan.
Penting dicatat, masjid dalam konteks Mataram tak hanya tempat ibadah, tetapi simbol kekuasaan. Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta adalah contoh betapa tata letak dan arsitekturnya mencerminkan hierarki kerajaan sekaligus tata kosmos Islam-Jawa. Di dalamnya, khutbah Jumat adalah sekaligus pidato politik dan doa keselamatan negara.
Santri di era ini pun bukan hanya murid, tapi agen perubahan sosial. Mereka menyebarkan ajaran Islam hingga pelosok—mendirikan langgar, pesantren, dan kadang memulai perlawanan kultural. Mereka adalah simpul-simpul dakwah yang menyerap dan mengolah, bukan menyalin mentah. Maka tak heran, warisan Islam ala Mataram tetap lestari dalam bentuk yang mudah diterima masyarakat saat itu, seperti kenduri dan tembang sufistik.
Dialektika antara dakwah dan kekuasaan ini akhirnya menciptakan Islam khas Mataram: tidak ortodoks, tapi juga tidak sekuler. Ia menari di tengah pusaran kekuasaan, menenun nilai-nilai langit dengan adat bumi. Tradisi ini masih hidup dalam bentuk haul, pengajian keraton, dan tarekat lokal yang menggeliat diam-diam. Di antara mantra dan wiridan, di antara keris dan kitab kuning, Islam ala Mataram terus bertahan.
Bahan Bacaan:
- M.C. Ricklefs, 2013, Mengislamkan Jawa; Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 Sampai Sekarang, Jakarta: Serambi.
- Mark R. Woodward, 2016, Islam Jawa; Kesalehan Normatif Versus Kebatinan, Yogyakarta, Ircisod.
- Alfian, 1989, Islam dan Kebudayaan Jawa, Jakarta: LP3ES.
