Dalam arus deras sejarah Nusantara abad ke-19, nama Kyai Mojo tampil bukan hanya sebagai pemuka agama, tetapi juga sebagai pejuang gagasan, penghubung spiritual-politik antara Mataram dan gerakan revolusi. Terlahir sebagai Mas Said bin Muhammad Shaleh, Kyai Mojo bukan sekadar ulama, tapi darah bangsawan Mataram mengalir kental dalam dirinya. Ia cucu dari Sultan Mataram, Pakubuwono I, sekaligus murid dari banyak tarekat keislaman yang menyinari pikirannya sejak muda.
Pertemuannya dengan Pangeran Diponegoro menjadi titik balik sejarah. Kyai Mojo bukan sekadar penasihat spiritual, tetapi menjadi arsitek moral dan religius dalam Perang Jawa (1825–1830)—salah satu perang anti-kolonial terbesar di Nusantara. Ia membakar semangat laskar santri dengan seruan jihad, bukan sebagai bentuk kekerasan buta, melainkan sebagai panggilan etis untuk menolak ketidakadilan kolonial.
Kyai Mojo melihat tanah Jawa sebagai ruang teologis-politik. Dalam perspektifnya, kolonialisme bukan hanya penindasan ekonomi, tapi bentuk penyimpangan dari tatanan kosmologis Mataram yang adil dan Islami. Maka perang adalah restorasi spiritual, jihad fi sabilillah yang bukan melulu soal pedang, tetapi pembebasan makna hidup rakyat.
Namun kolonial tak pernah buta strategi. Usai tertangkap di kaki Gunung Lawu, Kyai Mojo dibuang jauh ke Sulawesi Tengah, tepatnya di Ampana dan kemudian ke Poso. Ironisnya, pengasingan inilah yang justru membuka babak baru dakwah Kyai Mojo. Dari tanah asing, ia membangun perkampungan muslim, mengislamkan suku-suku lokal, dan menanamkan nilai Islam Mataram dalam dialek lokal.
Dakwahnya di pengasingan bukan pelarian, tetapi kelanjutan misi. Ia menulis, mengajar, dan menghidupkan Islam sebagai rahmat dan jalan hidup. Menurut sejarawan Ong Hok Ham (2018), pengaruh Kyai Mojo di Sulawesi Tengah menjadi titik awal islamisasi kultural yang tak bisa dilepaskan dari benang sejarah Jawa.
Yang menarik, peninggalannya di Poso tidak lenyap oleh waktu. Makam Kyai Mojo di wilayah itu kini menjadi situs ziarah yang sunyi tapi penuh makna. Sebuah prasasti perlawanan tanpa peluru, melainkan dengan akhlak dan ketekunan mengajar. Sebuah wujud tafsir Islam sebagai gerakan pemerdekaan.
Warisan Kyai Mojo hari ini bukan hanya kuburannya atau catatan sejarah kolonial. Ia adalah figur liminal—antara istana dan pesantren, antara kitab dan keris. Ia tak sepenuhnya milik sejarah Jawa saja, tetapi juga milik bangsa yang terus mencari akar perjuangannya.
Dalam konteks Indonesia modern, semangat Kyai Mojo bisa dibaca ulang sebagai perlawanan berbudaya—yang tak sekadar bersenjata, tapi memadukan spiritualitas dan tindakan kolektif. Warisannya menjembatani tradisi Islam dan nasionalisme dalam bingkai yang otentik, bukan tempelan. Sebuah jejak yang tetap menyala, dari Mataram hingga Poso.[]
Referensi;
- Ong Hok Ham, 2018, Madun Dalam Kemelut Sejarah, Jakarta, Gramedia.
- Peter Carey, 2004, Asal Usul Perang Jawa: Pemberontakan Sepoy & Lukisan Raden Saleh, Yogyalarta, LKiS.
- Peter Carey, 2011, Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Takhir Tatanan Lama di Jawa, Jakarta, Gramedia.
- Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, 1975, Sejarah Nasional Indonesia: Indonesia Dalam Abad 18 dan 19, Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
