Edisi Haul Mah Kyai Nur Iman
Di Mlangi, sebuah dusun agraris yang terletak di Sleman barat, napas spiritualitas tak pernah benar-benar padam. Di sanalah Raden Mas Sandeyo atau lebih dikenal sebagai Mbah Kyai Nur Iman, putra mahkota Amangkurat IV yang lebih memilih jalan mendidik masyarakat ini, menanam benih keilmuan yang hingga kini tumbuh subur dalam ingatan kolektif. Ia datang dengan kerendahan hati, membawa cahaya Islam dari pesisir ke pedalaman, dari teks ke praksis, dari surau kecil ke pusat dakwah yang berwibawa.
Sekitar akhir abad ke-18, dalam perjalanan sejarah Kesultanan Yogyakarta yang baru berdiri, Mbah Kyai Nur Iman dipercaya menjadi Pathok Negoro, pendiri dan penjaga salah satu titik spiritual di empat penjuru kota. Masjid Mlangi yang ia dirikan bukan sekadar bangunan ibadah, tetapi juga penanda simbolik atas legitimasi Islam sebagai tulang punggung moral kesultanan. Di situlah agama dan negara saling menatap, kadang berjabat, kadang menjaga jarak dalam diam.
Nama Mlangi, bagi sebagian orang, memang sebatas toponimi. Namun bagi ratusan ribu peziarah, ia adalah lanskap ruhani yang menyimpan energi batin. Setiap tahun, terutama pada bulan haul Muharram, Mlangi menjelma lautan doa. Dari berbagai belahan pelosok, para peziarah berduyun-duyun datang, menyusuri jalan kecil, memadati halaman masjid, dan bersimpuh di makam sang kyai. Doa-doa mengalir seperti arus sungai yang tak kenal henti.
Bukan sekadar ritual, haul Mbah Kyai Nur Iman telah menjadi peristiwa budaya, spiritual, sekaligus sosial. Di sinilah kesetiaan kepada tradisi bertemu dengan semangat zaman. Anak-anak muda Mlangi kini merekam acara dengan gawai, menyiarkan pengajian lewat siaran langsung, dan menyambung silaturahmi melalui media digital. Namun khidmat tetap terjaga, karena esensinya tak berubah: mengenang ilmu, meneladani laku, meneguhkan iman.
Mbah Kyai Nur Iman bukan hanya sosok individual, tetapi institusi spiritual. Sanad ilmunya melahirkan jaringan pesantren, dari Jateng, DIY, Jatim hingga luar Jawa. Warisan keilmuan itu bersifat regeneratif—tak hanya dilestarikan, tapi juga dikembangkan. Mlangi menjadi simpul dari jaringan ulama yang mengakar kuat dalam tradisi pesantren Nusantara. Namanya disebut dengan takzim; di setiap doa, ia dimintakan ampun.
Jejaknya tak hanya tertulis dalam manuskrip atau hikayat, tapi juga dalam tatanan sosial. Masjid Mlangi berdiri dalam poros masjid–pesantren–makam, warisan tata ruang spiritual ala Mataram Islam yang menandai relasi antara langit dan bumi. Inilah geografi iman yang terus dirawat oleh masyarakatnya, tak sekadar sebagai memori, melainkan sebagai praktik hidup.
Bahkan ketika dunia berubah cepat, tradisi haul tak kehilangan relevansinya. Ia menjadi momen untuk menata ulang batin, menyambung silsilah ruhani, dan memperbarui kesetiaan kepada nilai-nilai Islam yang bersahaja. Di tengah kegaduhan dunia digital, Mlangi menawarkan ketenangan: bahwa spiritualitas tak pernah lekang, selama ia disemai dengan cinta.
Melalui haul, Mbah Kyai Nur Iman seakan hadir kembali setiap tahun. Bukan sebagai tokoh sejarah yang usang, melainkan sebagai cahaya yang menuntun langkah-langkah umat. Ia adalah pengingat bahwa dakwah tak harus lantang, bahwa perubahan besar bisa lahir dari desa kecil, dan bahwa ilmu yang diamalkan tak akan mati.
Jejak Mbah Kyai Nur Iman adalah nyala yang tenang namun tegas. Mlangi bukan hanya kampung santri, tetapi kampung sejarah, kampung takdir. Di sini, spiritualitas bukan warisan yang disimpan di lemari, tapi lentera yang terus menyala di tangan generasi baru. Dan dari tanah itulah, Nur Iman tetap berjalan bersama umatnya, meski dalam keabadian.[]
Referensi:
- Abror, Indal, Aktualisasi Nilai-Nilai Budaya Masjid Pathok Negoro, dalam Jurnal Esensia, Vol 17, No. 1, April 2016.
- Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara, 2013
- Wawancara dengan Warga Mlangi (lapangan), Juli, 2025.
