Di balik bangunan-bangunan tua di Kotagede, di sela lorong-lorong sempit yang mengalirkan aroma kemenyan dan kenangan, nama Ki Ageng Pemanahan masih disebut dengan takzim. Dialah bukan hanya pendiri Mataram, melainkan juga seorang ulama dan wali yang menanamkan benih spiritualitas ke dalam tanah kekuasaan. Jika raja adalah pengatur negara, maka Pemanahan adalah penentu ruhnya.
Ia bukan tokoh sembarangan. Putra dari Ki Ageng Ngenis, cucu Ki Ageng Sela, ia dibesarkan dalam atmosfer sufistik yang kental, berkelindan antara ilmu kanuragan dan ajaran tarekat. Dalam silsilah dakwah, Ki Ageng Pemanahan berafiliasi langsung dengan Sunan Kalijaga, baik secara biologis maupun spiritual. Ia disebut sebagai murid dan penerus ideologis Kalijaga, pewaris tafsir Islam yang membumi.
Ketika Sultan Hadiwijaya dari Pajang menghadiahinya tanah hutan Mentaok (kelak menjadi Kotagede), Pemanahan tak sekadar membabat pohon. Ia membangun peradaban, dengan musala, sumur, dan pesantren sebagai fondasi. Inilah cikal bakal Kesultanan Mataram Islam, yang kelak dilanjutkan oleh anaknya, Panembahan Senapati. Tapi benihnya? Dari sang ayah yang lebih suka duduk di langgar ketimbang di singgasana.
Landasan Mataram bukan sekadar politik dan pedang, tapi juga tasawuf dan tauhid. Di tangan Ki Ageng Pemanahan, dakwah Islam tak melulu lewat mimbar, tapi melalui etika kepemimpinan, tata kota kosmologis, dan harmoni antara Islam dan budaya Jawa. Ia adalah prototipe pemimpin spiritual: tak haus kuasa, tapi kuasanya mengalir dari kedalaman jiwa.
Makamnya di Kotagede kini menjadi tempat ziarah. Bukan karena gelarnya sebagai panglima Pajang, tapi karena jejaknya sebagai pembuka jalan ruhani bagi Mataram. Konon, ia tetap memilih hidup sederhana, dekat dengan rakyat, dekat dengan tanah, dekat dengan Tuhan. Di situlah kekuatannya memancar.
Para peneliti seperti H.J. de Graaf dalam Geschiedenis van Indonesië mencatat peran Pemanahan sebagai sosok transisi: dari zaman Wali Songo ke masa kerajaan Islam yang mapan. Ia bukan hanya membangun istana, tetapi juga mencetak kader-kader ulama dan pemimpin. Pesantren kecil yang ia dirikan di Mentaok adalah tempat kawah candradimuka, di mana politik dan spiritualitas saling menyulam.
Meski sejarah menempatkannya sebagai tokoh “sebelum Senapati”, perannya justru mendasar. Tanpa Ki Ageng Pemanahan, Mataram hanya akan jadi kawasan pertanian biasa. Ia adalah pengolah tanah dan jiwa. Ia yang menyiapkan struktur nilai, agar Mataram kelak tak sekadar berkuasa, tapi juga bercahaya.
Kini, jejaknya terpatri dalam tata ruang dan spiritualitas Yogyakarta—dari susunan kraton–alun-alun–masjid–pasar, hingga semangat pesantren dan toleransi Jawa. Pemanahan mungkin tak setenar Senapati atau Sultan Agung, tapi ia adalah akar, bukan daun. Dan akar, meski tak tampak, adalah penentu hidupnya pohon.
Jika hari ini kita berjalan di lorong-lorong Kotagede dan merasa tenang, mungkin itu bukan sekadar suasana. Mungkin itu adalah jejak ruh Ki Ageng Pemanahan—seorang wali yang diam-diam masih mengawal tanah ini.
Referensi:
De Graaf, H.J. & Pigeaud, Th.G.Th. Kerajaan Islam Pertama di Jawa.
Ricklefs, M.C. Mystic Synthesis in Java.
Purwadi, Sejarah Raja-Raja Jawa.
