Di tengah riuh gamelan dan seruan shalawat, siapa sangka Islam pernah masuk ke tanah Jawa bukan lewat pidato podium, tapi lewat tembang yang syahdu dan pentas wayang yang menggelitik. Budaya Kubro Siswo adalah salah satu maha karya Walisongo—sembilan ulama visioner yang menyulap ajaran agama menjadi seni yang menghanyutkan. Di tangan mereka, agama bukan hanya disampaikan, tapi dirasakan; bukan cuma dituturkan, tapi dilagukan. Dan hingga kini, tradisi ini masih berdenyut di jantung kampung-kampung santri, seperti Mlangi, Gamping, Sleman.
Kata “kubro” dan “siswo” yang berarti “agung” dan “murid”, memang cocok menjadi nama tradisi yang menampung semangat pengajaran kolosal. Bayangkan pengajian yang dibumbui pertunjukan seni, diselingi tembang macapat, dan dipandu oleh Punakawan yang lebih lucu daripada ustaz YouTube zaman sekarang. Walisongo tahu betul bahwa masyarakat Jawa lebih mudah menangkap makna lewat irama dan lakon ketimbang ceramah panjang berbahasa Arab yang bikin ngantuk selepas isya.
Dalam Kubro Siswo, ilmu agama menjelma menjadi lagu. Macapat Sinom bisa menyelipkan tafsir surah pendek, sementara gamelan mengiringi pujian pada Sang Khalik. Tak ada bentakan, tak ada dikotomi “halal-haram” ala debat medsos. Yang ada justru keselarasan antara nilai spiritual dan estetika lokal. Satu paket dakwah yang tidak hanya logis, tapi juga magis.
Festival Mlangi menjadi bukti bahwa Kubro Siswo bukan fosil budaya. Ia masih hidup, menari, dan menyanyi. Di panggung festival, tembang Dhandhanggula bersahutan dengan shalawat rebana, diiringi langkah para penari kecil bersarung batik. Para santri dan warga—tanpa sadar—ikut menjadi bagian dari dakwah yang berpijak pada bumi tapi menatap langit. Islam di sini tidak hanya dipraktikkan, tapi juga dipentaskan.
Uniknya, Kubro Siswo juga punya efek domino yang menguntungkan. Setiap festival bukan hanya ajang nostalgia budaya, tapi juga kesempatan bisnis. UMKM konveksi dan kerajinan tangan ikut panen berkah. Dari kaos, daster, kuliner, sampai aneka produk minuman, ekonomi lokal bergerak serempak dengan musik dakwah. Ini bukan hanya budaya, ini juga strategi pembangunan berbasis tradisi.
Di sinilah pesan paling relevan dari Walisongo kembali bergema: bahwa dakwah bukan perkara bentuk, tapi soal cara menyentuh hati. Jika dulu lewat wayang dan tembang, hari ini bisa lewat animasi, game, atau TikTok spiritual yang tak kehilangan ruh. Kubro Siswo memberi teladan bahwa Islam bisa menyatu dengan budaya, tanpa merasa kehilangan identitas.
Mlangi menunjukkan bahwa menjaga tradisi tak harus berarti menolak modernitas. Justru sebaliknya: menggabungkan keduanya bisa menciptakan ruang dakwah yang lebih luas dan bersahabat. Dan di tengah dunia yang makin bising oleh perbedaan, budaya seperti Kubro Siswo mengajarkan satu hal penting: bahwa keberagaman bisa menjadi jalan menuju ketenangan, bukan ketegangan.
Jadi, lain kali kalau dengar tembang macapat dari kejauhan, jangan buru-buru mengira itu hanya hiburan kampung. Siapa tahu, itu cara Tuhan menyapa lewat nada. Dakwah tak harus keras, kadang ia cukup merdu. Dan di Mlangi, dakwah itu… bertembang. Sudahkah Anda mendengarnya?[]
