Dari jantung kampung santri di Dukuh Mlangi, Gamping, Sleman, terdengar suara yang tak pernah lekang oleh waktu: rebana. Bukan sekadar alat musik, ia menjadi semacam stempel identitas sekaligus juru bicara spiritualitas yang lembut. Di Mlangi, rebana tak hanya dimainkan, tapi dimuliakan—sebuah bentuk ibadah dalam irama, warisan dari Kyai Nur Iman yang terus berdetak sejak abad ke-18.
Lupakan sejenak rebana sebagai gimmick pentas seni sekolah. Di sini, rebana adalah kendaraan sejarah. Ia mengangkut salawat berbahasa Jawa, menggiring kenangan kolektif dalam haul, Maulid Nabi, hingga malam-malam Ramadan yang khusyuk. Bahkan ketika modernitas menyalakan lampu neon dan menyulap kampung jadi kota mini, pesantren-pesantren seperti Pondok Pesantren Al-Miftah, Pondok Pesantren AlFalahiyah, Pondok Pesantren Al-Huda, Pondok Pesantren Al-Salimiyah, Pondok Pesantren An-Nasyath, Pondok Pesantren Mlangi Timur, Pondok Pesantren Al-Mahbubiyah, Pondok Pesantren Al Mubarok dan Pondok Pesantren Aswaja Nusantara. tetap konsisten menjaga agar rebana tak hanya hidup, tapi juga berakar kuat.
Yang unik, tradisi ini tak digarap kaku ala museum. Lihat saja Kojan Mlangi—gabungan tabuhan rebana, salawatan Jawa, dan gerakan yang hampir-hampir seperti tarian sufistik versi lokal. Santri cilik hingga remaja bergiliran tampil, menjadikan halaman pesantren seolah-olah panggung Broadway ala pesantren. Ini bukan seni pertunjukan biasa, tapi pengajian yang bersuara.
Semangat itu tak datang dari langit. Ia ditanam sejak PAUD. Anak-anak yang belum fasih membaca kitab kuning sudah lancar memukul rebana dengan irama yang membuat bulu kuduk berdiri. Di Festival Mlangi 2025 yang baru saja digelar, pentas Sekar Arum yang menampilkan Kubro Siswo—perpaduan rebana, tari, dan syair-syair adab dan perjuangan. Di tengah guyuran sorot lampu dan suara tawa penonton, pesan moral mengalir tanpa ceramah.
Tentu, rebana Mlangi bukan rebana tempo doeloe belaka. Ia sudah diremajakan. Instagram jadi panggung tambahan. Video salawatan dengan latar sawah dan Gunung Merapi mendadak viral. Modernisasi, yang dulu dianggap musuh tradisi, kini menjadi sekutu, karena aspek positifnya yang diambil, bukan sampahnya. Bahkan rebana ikut tampil di festival keagamaan, menyita perhatian wisatawan dengan karisma yang tak dibuat-buat.
Dan Mlangi sendiri, sebagai desa wisata religi, ia kedatangan ribuan tamu tiap tahunnya. Banyak dari mereka penasaran: seperti apa Islam yang lembut dan akrab budaya itu? Mereka datang, duduk bersila, mendengar tabuhan rebana yang lebih fasih menjelaskan toleransi dibanding seminar tiga jam di hotel berbintang.
Dan, di balik modernitas dunia digital, api semangat tak pernah padam. Anak-anak Mlangi tetap menabuh rebana seolah dunia sedang menonton. Pesantren tetap mengajarkan bahwa musik bukan sekadar hiburan, tapi wasilah—jembatan menuju yang Maha Indah. Dan rebana, dalam dentingnya, terus membisikkan doa.
Maka rebana Mlangi bukan cuma tentang alat musik. Ia adalah simbol. Sebuah perlawanan halus terhadap lupa. Ia mengetuk pintu hati generasi muda, mengajak mereka menyambung warisan dengan tangan sendiri. Di tengah zaman yang kadang gaduh tanpa makna, Mlangi memilih tetap bersuara—pelan, puitis, tapi sampai.[]
