Di Mlangi, Sleman, malam Jumat bukan sekadar momentum keheningan, tapi semacam panggilan batin untuk bersua dengan bunyi-bunyi dari zaman yang nyaris dilupakan. Di masjid, di langgar, di teras-teras pondok, suluk Pegon dilantunkan. Puisi-puisi sufi beraksara Arab-Jawa dibaca dalam tembang macapat, mengalun pelan seperti angin semilir yang tak pernah bosan menyapa daun jendela.
Suluk Pegon bukan pertunjukan. Ia semacam latihan spiritual berjamaah, yang mempertautkan santri, kiai, dan warga dalam keheningan yang bersuara. Dibalut dalam aksara Pegon—warisan literasi Islam Nusantara yang seringkali dipinggirkan dalam kurikulum nasional—tradisi ini adalah bentuk perlawanan lembut terhadap amnesia budaya. Dan Mlangi, dengan sekitar 17 pesantrennya, menjadi bentengnya.
Yang menarik, suasana saat suluk berlangsung tak ubahnya drama klasik. Cahaya lampu minyak berpendar remang, suara suluk dilantunkan perlahan, dan para peserta—dari remaja bersarung hingga sepuh bersurban—menyimak dalam diam. Tak ada gawai, tak ada swafoto. Yang ada hanya bait-bait tentang kefanaan dunia dan harapan agar hidup tak berakhir sia-sia.
Suluk bukan hanya dibaca, tapi dijalani. Setelah pembacaan teks seperti Suluk Wijil atau Suluk Sukarsa, dzikir dilantunkan. Kadang disambung diskusi tafsir. Kiai menjelaskan makna-makna yang kadang lebih dalam dari sumur, tapi tetap bisa dipahami dengan hati yang tak keras kepala. Intinya: kita ini kecil, dunia ini singkat, dan Allah itu selalu dekat—tanpa harus banyak gembar-gembor.
Di tengah dunia yang makin cepat tapi makin kosong, Suluk Pegon menawarkan ritme lambat yang justru menyembuhkan. Tak heran, beberapa tahun terakhir, Mlangi dikunjungi pelancong dari luar negeri hingga mahasiswa kota sebelah. Mereka ingin menyaksikan bagaimana agama bisa begitu puitis, dan budaya bisa sangat spiritual. Tak semua paham bahasa suluk, tapi semua paham tenangnya suasana.
Pesantren-pesantren di Mlangi pun jeli. Mereka memasukkan Suluk Pegon dalam khazanah budaya yang mudah dilantunkan dan dipahami, rileks. Sambil menikmati teh tubruk dan mendengar kisah Kyai Nur Iman—ulama sekaligus kakak Sultan HB I yang mendirikan Mlangi— siapa pun bisa ikut larut dalam ritual, atau setidaknya, diam-diam merenung tentang arti “pulang ke dalam”.
Namun, seperti warisan indah lainnya, Suluk Pegon juga menghadapi tantangan zaman. Generasi muda tak lagi akrab dengan aksara Pegon. Gawai lebih akrab dari kitab kuning. Tapi jangan salah, para kiai dan pengasuh pondok tidak tinggal diam. Kursus Pegon digelar, festival shalawat dihidupkan, bahkan digitalisasi naskah mulai dirintis. Ini bukan nostalgia, ini inovasi yang bersujud.
Suluk Pegon adalah jalan sunyi yang tetap dipilih. Di tengah hiruk pikuk modernitas, ia hadir sebagai pengingat bahwa tak semua yang penting harus viral, dan tak semua yang bermakna harus komersial. Ia tidak menolak masa kini, hanya menolak untuk kehilangan masa lalu yang membuat masa kini bermakna.
Mlangi, dengan Suluk Pegon-nya, adalah simpul spiritual yang memadukan puisi, pelita, dan pelestarian. Ia bukan sekadar dusun, tapi ruang lintas waktu di mana huruf-huruf Pegon menjembatani langit dan bumi. Maka, siapa pun yang singgah ke sana, bersiaplah: bukan hanya melihat tradisi, tapi mungkin, juga menemukan versi dirimu yang lebih utuh.
Ingin tahu lebih dalam tentang budaya Islam Jawa dan suluk Pegon? Sudah waktunya kamu datang langsung ke Mlangi.[]
