Di tengah maraknya festival yang lebih suka selfie ketimbang substansi, Festival Mlangi 2025 tampil seperti santri yang tetap elegan juga kekinian, pun tetap paham kitab. Dengan tema “Menjawab Masa Depan Berbasis Literasi Tradisi”, festival ini bukan sekadar nostalgia kolektif, tapi juga ajakan serius untuk memikirkan masa depan lewat lensa masa lalu.
Empat hari di kawasan Masjid Pathok Negoro Mlangi, Sleman, bukan cuma diisi pentas rebana atau sholawatan ngulik nada. Di sini, aksara Pegon—yang dulu setia mengisi kitab kuning dan catatan santri—dibangkitkan jadi primadona baru. Tak sekadar dibaca, tapi dipamerkan, dilombakan, dan bahkan diajarkan seperti bahasa alien yang ternyata milik kita sendiri.
Kursus dasar menulis Pegon, bedah naskah kuno, dan festival kaligrafi Islami jadi bukti bahwa aksara ini bukan hanya masa lalu yang berdebu, melainkan jembatan ke masa depan yang penuh makna. Di Mlangi, Pegon tak sekadar ditulis, tapi dihayati—seperti santri yang hafal bait Alfiyah sambil jajan cilok.
Tapi jangan salah, ini bukan festival serba serius. Di sela-sela sholawat Jawa, Kojan, Rodad, dan Kubro, ada juga festival UMKM dan kuliner lokal. Bayangkan: habis diskusi sejarah Islam Mataraman, langsung ngopi sambil ngemil apem legit dan bakwan santri. Ini bukan sekadar festival—ini ziarah budaya sambil wisata rasa.
Agenda padat dari Rabu sampai Sabtu disusun rapi seperti jadwal mengaji di pondok. Ada pembukaan resmi dengan para pejabat, pentas rebana antarpesantren, hingga sholawatan ‘ngelik’—semacam jazz-nya santri. Dan di akhir, penutupan dengan pembagian hadiah lomba Pegon, seolah-olah aksara Arab-Jawa itu kini punya panggung catwalk sendiri.
Yang bikin segar, Festival Mlangi ini tak hanya menghidupkan tradisi, tapi juga ekonomi warga. UMKM lokal seperti batik santri dan kuliner khas pesantren tak sekadar jadi pelengkap, melainkan motor utama gerakan ekonomi berbasis budaya. Di Mlangi, ekonomi tak melulu soal cuan, tapi juga soal keberkahan.
Di balik semaraknya, ada pesan serius yang disampaikan festival ini: tradisi bukan fosil untuk dipajang, melainkan energi sosial yang terus bergerak. Aksara Pegon, misalnya, bukan benda kuno yang hanya cocok untuk museum, tapi alat berpikir yang bisa dibawa ke ruang kelas, ke TikTok, bahkan ke coding—asal tahu caranya.
Semua ini mungkin terdengar terlalu idealis, apalagi di zaman yang lebih akrab dengan emoji ketimbang etimologi. Tapi Festival Mlangi percaya: literasi tradisi adalah cara paling elegan untuk menghadapi disrupsi. Karena masa depan, sesungguhnya, hanya bisa dijawab oleh mereka yang hafal sejarahnya.
Maka, jika Anda bosan dengan festival yang hanya menjual lampu warna-warni dan lagu nostalgia, datanglah ke Mlangi. Di sini, tradisi tak hanya hidup, tapi juga membaca Anda kembali. Sebab Pegon tak pernah benar-benar mati—ia hanya menunggu momentum untuk ditulis ulang dengan tinta zaman.[]
