BerandaBeritaLokalGatheng: Mainan Batu Warisan Mataram yang Dulu Bikin Anak Perempuan Lupa Pulang

Gatheng: Mainan Batu Warisan Mataram yang Dulu Bikin Anak Perempuan Lupa Pulang

Dipublikasikan pada

Anak-anak zaman sekarang kalau dikasih batu kecil, paling dikira mau dilempar ke kucing. Tapi bagi generasi 90-an ke bawah, batu kecil itu bisa jadi sumber bahagia tak terbantahkan. Namanya gatheng—mainan tradisional yang lahir dari tanah Yogyakarta sejak zaman Mataram Islam. Murah, sederhana, nggak butuh sinyal 5G, tapi bikin ketagihan. Iya, ketagihan yang menyehatkan, bukan kayak adiksi game online yang bikin WHO sampai turun tangan.

Gatheng ini bukan cuma dolanan, tapi jejak peradaban. Namanya aja udah Jawa banget, dan konon berasal dari batu mainan Raden Rangga, putra Panembahan Senopati, raja Mataram Islam. Batu itu—yang disebut watu gatheng—masih bisa ditemukan di Kotagede. Ini bukan sekadar batu nostalgia, tapi bukti kalau peradaban Jawa ngerti banget pentingnya main sebagai sarana belajar dan membentuk karakter.

Permainannya sederhana tapi menuntut fokus dan koordinasi tangan-mata yang ciamik. Batu-batu kecil diserakkan, lalu dikutip satu per satu sambil ngelempar batu gacok ke udara. Yang kutipnya paling luwes, dan gacoknya nggak jatuh, dia pemenangnya. Nggak ada cheat code, nggak ada top up diamond. Yang ada cuma skill, refleks, dan kadang ngeles dari lemparan temen kalau kalah.

Permainan ini dulunya jamak dimainkan anak perempuan, meski anak laki juga suka nyelip ikut main. Di berbagai daerah namanya beda-beda: batu serak, watu lima, dan lainnya. Tapi esensinya sama: main bareng, jujur, kompetitif, dan tanpa perlu colokan listrik. Rasanya seperti bekelan versi Jawa yang lebih cadas.

Nilai filosofisnya? Banyak. Gatheng itu ngajarin kejujuran, sebab mainnya nggak bisa curang. Ngajarin sabar, karena kutip batu itu butuh timing, bukan asal cepet. Ngajarin kerja motorik halus dan melatih konsentrasi. Yang lebih penting, permainan ini ngajarin bahwa hal-hal kecil bisa sangat berarti—asal tahu cara memainkannya. Sebuah refleksi hidup yang tak kalah bijak dari quotes di bio Instagram.

Bandingkan dengan main game online. Emosi gampang meledak, komunikasi tersendat, dan interaksi fisik nyaris nol. Padahal anak-anak butuh gerak, tawa bareng, dan konflik kecil yang bisa diselesaikan tanpa tombol “uninstall”. Dalam gatheng, semua itu ada secara alami—tak perlu WiFi, cukup halaman rumah dan lima batu kecil.

Permainan ini juga eco-friendly. Tanpa plastik, tanpa baterai, tanpa polusi suara. Sungguh dolanan lokal yang patut diangkat jadi ikon sustainable childhood. Tapi sayangnya, eksistensinya makin dilupakan. Alih-alih diajarkan, yang sering muncul di sekolah malah simulasi robot atau coding sejak TK. Keren sih, tapi masa iya budaya sendiri dikubur pelan-pelan demi konten TikTok?

Gatheng mestinya masuk kurikulum muatan lokal atau jadi ekstrakurikuler wajib. Nggak cuma buat nostalgia, tapi untuk menyambungkan kembali anak-anak dengan akar budayanya. Apalagi di era anak makin individualis dan terasing dari lingkungan sosial, permainan macam ini bisa jadi alat yang murah-meriah buat mengasah empati dan kerja sama.

Jadi, lain kali lihat batu kecil di pinggir jalan, jangan cuma disepak. Siapa tahu itu batu warisan Panembahan Senopati yang lagi ngajak kamu main gatheng. Dan mungkin, dari permainan sederhana itu, kita bisa belajar satu hal penting: bahwa hidup nggak perlu serumit algoritma, kadang cukup sesederhana melempar dan menangkap—dengan hati yang jujur.[]

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Elastisitas Islam di Tengah Politik Ekspansi Sultan Agung

Ada pertanyaan yang cukup menarik dan bikin penasaran dari seorang pembaca. Bagaimana Islam dapat...