BerandaKarya SantriArtikelHari Buku Sedunia 2025: Banjir Diskon, Tapi Penulis Tetap Miskin? Ini Sisi...

Hari Buku Sedunia 2025: Banjir Diskon, Tapi Penulis Tetap Miskin? Ini Sisi Lain Industri Buku yang Jarang Dibahas

Dipublikasikan pada

Hari Buku Sedunia memang selalu sukses bikin euforia. Sekolah ramai dengan lomba baca puisi, toko buku banjir diskon, dan medsos dipenuhi postingan “buku favoritku sepanjang masa”. Tapi, euforia tahunan ini sebenarnya lebih mirip angin segar yang cepat hilang—heboh sesaat, tapi tak selalu menyelesaikan akar masalah literasi dan ekonomi penerbitan. Tahun 2025, perayaan ini mengusung tema mulia soal literatur dan SDGs, tapi pertanyaannya: siapa yang paling diuntungkan?

Di balik kampanye #WorldBookDay yang meriah, penerbit besar dan toko buku raksasa seperti Amazon justru jadi pemain utama. Dengan bagi-bagi e-book gratis dan program token buku, mereka berhasil menarik massa digital dan pembaca baru. Tapi gimana nasib penulis lokal dan penerbit independen? Banyak yang cuma kebagian remah-remah royalti, apalagi kalau bukunya dibaca gratis tanpa kompensasi yang sepadan.

Sementara itu, kegiatan di Rio de Janeiro sebagai World Book Capital 2025 sukses menyedot perhatian dunia. Tapi di Indonesia? Sebagian besar pembaca masih sibuk memilih antara beli buku atau isi ulang gas elpiji. Harga buku cetak yang kian melambung bikin banyak orang lebih milih baca quote motivasi di Instagram daripada baca novel 400 halaman. Di sisi lain, akses ke buku digital pun belum merata karena sinyal dan kuota masih jadi barang mewah di daerah terpencil.

Token buku senilai £1 di Inggris memang manis, tapi andai bisa ditukar dengan token semangat baca yang konsisten. Sebab faktanya, antusiasme membaca kadang cuma muncul setahun sekali, pas Hari Buku tiba. Setelah itu? Buku kembali ke rak, dan algoritma TikTok menang telak. Ironisnya, justru generasi yang disebut “digital native” kini lebih akrab dengan fanfic Wattpad daripada karya sastra lokal yang memuat nilai kebudayaan dan kritik sosial tajam.

Tapi, tak semuanya suram. Di sisi penerbitan digital, ada secercah harapan. Aplikasi baca dan klub buku virtual mulai mencuri hati pembaca muda yang haus konten fleksibel dan gampang diakses. Penerbit kecil pun mulai belajar “jualan rasa” lewat media sosial, bikin buku tak lagi sekadar tumpukan kertas, tapi jadi bagian dari gaya hidup. Sayangnya, kalau tak dibarengi dengan sistem distribusi royalti yang adil, digitalisasi bisa jadi jebakan kapitalisme baru: kontenmu viral, tapi kantong tetap defisit.

UNESCO memang getol kampanye soal hak cipta dan keberagaman, tapi dalam praktiknya, penulis minoritas masih harus jungkir balik untuk diakui. Di Indonesia, misalnya, suara penulis lokal tentang royalti dan akses buku murah kerap tenggelam di lautan promosi buku impor. Padahal, kalau pemerintah mau lebih serius, ini bisa jadi peluang untuk mengangkat industri literasi sebagai kekuatan ekonomi dan budaya yang strategis.

Kalau ditanya apakah Hari Buku Sedunia berdampak pada ekonomi buku? Jawabannya: iya, tapi tambal sulam. Ada peningkatan penjualan, iya. Ada promosi besar-besaran, iya. Tapi apakah itu cukup untuk menyehatkan industri? Belum tentu. Yang dibutuhkan bukan cuma satu hari penuh pesta, tapi sistem yang bikin buku jadi kebutuhan rutin, bukan barang mewah musiman.

Jadi, selamat merayakan Hari Buku. Bacalah, rayakanlah, tapi jangan lupa bertanya: siapa yang benar-benar diuntungkan? Karena dalam ekosistem buku, pembaca adalah raja, tapi penulis seringkali cuma rakyat jelata yang berharap bisa hidup dari kata-kata.[]

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Elastisitas Islam di Tengah Politik Ekspansi Sultan Agung

Ada pertanyaan yang cukup menarik dan bikin penasaran dari seorang pembaca. Bagaimana Islam dapat...