Bahagia, merupakan kata yang sering berkaitan dengan ketenangan pikiran dan batin. Selain itu, dalam pandangan Psikologi, bahagia merupakan gejolak emosional yang memuat unsur positif berupa kepuasan dalam sebuah kehidupan. Kemudian dalam pandangan agama, bahagia adalah sebuah ketenganan batin yang bersumber pada sebuah perenungan yang melibatkan antara Tuhan dan ciptaan-Nya.
Di zaman modern yang serba teknologi ini, bahagia banyak sekali kita temui diberbagai macam sudut kota dan desa. Seperti contoh, seorang anak remaja yang sedang merasa jatuh cinta, seseorang karyawan yang sedang mendapat hadih dari atasnya, seorang petani yang mendapatkan hasil panen yang melimpah, dan masih banyak lagi-contoh-contoh yang lainnya. Lantas, apakah kebahagian cukup hanya sekedar itu saja ?. Tentu jawabanya adalah tidak. Dalam tulisan sinkat ini, saya akan mencoba menjelaskan dengan membawa dua konsep bahagia yang di gagas oleh Buya Hamka dan Ki Ageng Suryamataram.
Ki Ageng Suryamataram adalah seorang putra mahkota, namun dalam kehidupanya sangat sederhana. Sebab ia mempunyai pandangan yang hampir sama dengan J. Khrisnamurti dari India yaitu mendasarkan pemikirannya tentang Self Knowledge (pengertian diri sendiri). Sedangkan Ki Ageng Suryamataram mendasarkan pemikirannya pada Pangawikan Pribadi (pengertian diri sendiri), menurut Ki ageng Suryomentaram mempelajari hal ini bisa dimaknai dengan mempelajari manusia dan kemanusiaan. Dengan demikian Ki Ageng Suryamataram mempunyai konsep Kaweruh Bejga ( Pengetahuan tentang Jiwa ) atau ( pengetahuan tentang bahagia ).
Kosep Kaweruh Bejga merupakan aliran kebatinan Jawa yang bertendensi pada konsep Sumareh mareng Gusti ( pasrah pada Tuhan ). Secara keorganisasian Sumareh merupakan aliran kebatinan Jawa yang sudah ada sejak dulu. Organisasi ini cukup besar karena di dalam organisasi kebatinan Jawa yang terhimpun dalam organisasi Sumareh terdapat banyak aliran kebatinan lain. Namun yang menjadi perbedaan adalah konsep kebatinan Kaweruh Bejga cukup besar pengikutnya.
Konsep dasar dari aliran kebatinan Kaweruh Bejga adalah pada mengedepankan pengalaman daripada keyakinan. Artinya setiap pengalaman yang dialami oleh pengukut aliran ini penting untuk menjadi bahan intropeksi diri atau komunikasi batin yang kemudian dihubungkan pada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, salah satu ajaran yang paling menonjol dalam tarekat kebatinan Kaweruh Bejga pada aspek etika.
Aspek etika dalam kebatinan Kaweruh Bejga sangat penting untuk diperhatikan. Tindak-tanduk, keramah-tamahan, dan pengolahan perasaan menjadi penting supaya manusia tidak terjerumus pada prasangka buruk yang berimbas pada suatu prilaku yang dilarang oleh agama.
Jika Ki Ageng Suryamataram lahir di Jawa dan berlatar belakang darah biru. Maka berbeda dengan Buya Hamka. Buya Hamka merupakan sosok tokoh sastra, tasawuf dan sekaligus seorang mufasir yang lahir di daerah Sungai Batang, Tanjung Raya, Suamtra Barat. Ia merupakan anak seorang ulama dan sekaligus seorang pahlawan di daerahnya.
Buya Hamka juga seorang penulis, salah satu karya beliau yang menunjukan ke shufianya adalah Buku Tasawuf Modern. Ia menjelaskan panjang lebar dalam sebuah buku tersebut, namun dalam hal ini. Penulis akan menjelaskan sepintas tentang konsep bahagia dan sekaligus gagasan zuhudnya.
Pemikiran tasawuf Hamka menempatkan tasawuf bukan sebagai pelarian melainkan alternatif terbaik dalam menghadapi dan menjalani kehidupan serta menyambut dunia. Islam bukan agama negatif tetapi sebaliknya Islam adalah agama positif menerima dan menyambut tantangan dunia. Menurut Hamka pada hakekatnya tasawuf merupakan usaha untuk memperbaiki budi dan membersihkan batin. Artinya tasawuf ialah alat untuk membentengi diri dari kemungkinan-kemungkinan seseorang terpeleset ke dalam kesesatan dengan berzuhud seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad saw.
Perbedaan yang menonjol dari konsep tasawuf Hamka dengan tasawuf klasik ialah konsep klasik menyandarkan tasawuf pada sisi pengalaman, sementara Hamka menyandarkannya pada proses pengamalan. Menurut Hamka tasawuf bukanlah suatu tujuan, tasawuf merupakan buah hasil dari pelaksanaan peribadatan yang benar dan ikhlas. Bertasawuf tetapi tidak menolak hidup. Menurutnya, bertasawuf lalu meleburkan diri kedalam gelangang masyarakat dan berupaya untuk mengembalikan tasawuf kepada pangkalnya dengan memberantas bid‟ah, tahayul, dan Khurafat serta bertasawuf melalui proses pengamalan syariat.
Dalam perkembangannya zuhud muncul sebagai reaksi dari realitas sosial keagamaan masayarakat. Meninggalkan dan menyisihkan diri karena tidak tahan dengan kebiasaan hidup yang cenderung memuja harta benda dan kekayaan. Harta benda menjadi tolak ukur status sosial. Kehidupan zuhud merupakan upaya untuk membenci kemegahan dunia yang telah dicapai seseorang atau dengan kata lain mencari kekayaan dalam hati sendiri.
Sikap zuhud bukan berarti bersepi-sepi, menghindari kehidupan umum, mengasingkan diri dan sebagainya, sekalipun tidak dilarang namun secara konsepsi, zahid bukanlah orang yang tidak berharta, terasing, sendiri dan lain-lain, akan tetapi mereka yang hidup dengan tidak dikuasai, tidak dipengaruhi, tidak menolak harta, menjalankan syariat dan memiliki keimanan yang kuat. Sikap zuhud pada awalnya bertujuan untuk memerangi hawa nafsu, dunia dan syaitan, tetapi dengan sikap zuhud yang berlebihan terkadang terjadi penyimpangan syariat agama, seperti mengharamkan kepada diri sendiri sesuatu yang dihalalkan oleh Allah, bahkan ada yang tidak ingin mencari rezeki, menyumpahi harta serta tidak peduli terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Dari zuhud tersbeutlah yang nantinya kebahagiaan yang hakiki akan di dapatkan oleh manusia.
Dari penjelasan di atas, berbeda cara yang digunakan oleh Ki Ageng Suryamataram dengan Buya Hamka. Tanpa mengurangi essensinya, kedua tokoh tersebut mempunyai corak dan cara pandang yang berbeda dalam mendeskripsikan ajaran kebahagiaan kepada manusia. Tentu hal ini, menjadi sebuah khazanah shufi Nusantara. Dimana kedua tokoh tersebut menceriminkan dua aluan yang berbeda namun mempunyai tujuan yang sama yakni mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
