Tapa Bisu Mubeng Benteng adalah tradisi lokal yang dilakukan oleh masyarakat Yogyakarta dalam menyambut Tahun Baru Islam. Tradisi ini melibatkan ribuan orang yang berjalan secara beriringan mengelilingi Benteng Kraton Yogyakarta pada malam pergantian Tahun Baru Islam. Benteng Kraton adalah kompleks istana tradisional yang menjadi simbol budaya dan sejarah Yogyakarta.
Selama acara “Tapa Bisu Mubeng Benteng”, peserta berjalan dengan hening dan dalam keadaan ‘tapabisu’ yang artinya tidak boleh berbicara. Mereka berziarah dan berdoa, serta mengenang peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW. Atmosfer hening ini menjadi momen refleksi dan spiritual bagi para peserta, sebagai bagian dari perayaan Tahun Baru Islam.
Tradisi “Tapa Bisu Mubeng Benteng” merupakan salah satu cara unik di mana masyarakat Yogyakarta merayakan Tahun Baru Islam dan menghormati nilai-nilai sejarah dan agama mereka. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, “Tapa Bisu Mubeng Benteng” adalah peristiwa unik di Yogyakarta yang merupakan bagian dari perayaan Tahun Baru Islam. Selain mengelilingi Benteng Kraton Yogyakarta dengan suasana hening, ada beberapa hal lain yang biasanya terjadi sebelum dan ketika perayaan ini:
Pertama, Selama prosesi mengelilingi Benteng Kraton, peserta berdoa dan berziarah ke makam para raja yang terletak di kompleks Kraton. Mereka juga mengenang peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dengan merenungkan nilai-nilai dan makna dari peristiwa tersebut.
Kedua, Meskipun acara ini dijalankan dalam suasana hening, tradisi ini mencerminkan keramahtamahan dan kehangatan budaya Jawa serta kecintaan masyarakat Yogyakarta terhadap warisan sejarah dan budaya mereka.
Ketiga, Ribuan orang berpartisipasi dalam acara ini, termasuk warga setempat, wisatawan, dan para peziarah yang datang dari berbagai daerah. Kerumunan ini menciptakan suasana yang penuh semangat dan kebersamaan.
Sejarah dan Fungsi Benteng Keraton Yogyakarta Sebagai Objek Pariwisata Yang Populer di Indonesia
Keempat, Tradisi “Tapa Bisu Mubeng Benteng” menjadi bagian dari identitas dan warisan budaya Yogyakarta. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana masyarakat lokal menghormati dan memelihara tradisi leluhur mereka.
Tradisi mubeng benteng merupakan sbeuah ritual yang dilakukan dengan cara mengelilingi Benteng Kraton Yogyakarta. Ritual tersebut dilakukan pada malam hari dan biasanya dalam perjalanan menggunkan rute dari Kraton Yogyakarta, alun-alun Utara, kemudian menuju alun-alun Barat, lanjut ke selatan atau ke Beteng Kulon, ke timur menuju Pojok Beteng Wetan dan berakhir di Kraton lagi.
Ritual Mubeng Benteng ini juga dilakukan tanpa menggunakan alas kaki. Hal tersebut tidak lain sebagai sebuah refreksi terhadap diri bahwa kita harus selalu ingat dengan alam dan Sang Maha Pencipta. Tidak hanya itu saja, para abdi ndalem beserta beberapa masyarakat yang ikut serta dalam tradisi ini tidak lupa membawa tasbih sebagai media untuk berzhikir ( berdoa ) dalam hati.
