BerandaKarya SantriArtikelPesantren: Laboratorium Sunyi yang Tak Pernah Selesai Diteliti

Pesantren: Laboratorium Sunyi yang Tak Pernah Selesai Diteliti

Dipublikasikan pada

Kadang jadi pertanyaan, mengapa banyak peneliti asing menyukai pesantren? Tak jarang mereka akhirnya menjadi lebih dekat ke kyai, seperti Bruinessen yang dekat dengan Gus Dur. Memang, pesantren menyimpan denyut intelektual yang tak kasat mata. Di sinilah, di antara lembaran kitab kuning dan lantai berdebu, lahir percakapan-percakapan diam tentang makna hidup, logika Tuhan, dan strategi bertahan dalam zaman yang gaduh. Bagi para peneliti, pesantren bukan hanya institusi pendidikan—ia adalah laboratorium sosial paling kompleks di Indonesia.

Tak sedikit tesis, disertasi, bahkan buku-buku best seller akademik lahir dari keluasan pesantren. Zamakhsyari Dhofier lewat Tradisi Pesantren (1982) meletakkan fondasi awal studi tentang kyai, kitab kuning, dan kultur pesantren sebagai subkultur khas Indonesia. Belakangan, Greg Barton, Martin van Bruinessen, hingga Clifford Geertz, berduyun-duyun mengurai rahasia lembaga ini dari kaca mata antropologi, sosiologi, bahkan politik.

Apa yang membuat pesantren begitu menggoda untuk diteliti? Barangkali karena ia selalu menyimpan paradoks. Pesantren tampak tradisional, tapi sering melahirkan pemikir progresif. Terlihat sunyi, namun penuh dinamika sosial. Di satu sisi membumi, di sisi lain sakral. Tak heran, banyak doktor lahir dari pergulatannya—baik yang menulis tentang ekonomi mikro dalam koperasi santri, demokrasi lokal berbasis pesantren, atau bahkan tafsir gender ala pondok pesantren putri.

Para santri, dalam banyak kasus, bukan hanya murid—mereka juga subjek riset, narator sejarah, sekaligus penggerak masyarakat. Halaqah, sorogan, dan bandongan bukan sekadar metode, melainkan jejaring kognitif yang tak bisa dibaca dengan teori Barat saja. Seperti dicatat Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat (1995), pesantren punya cara khas dalam menyampaikan dan melestarikan ilmu—di luar skema pendidikan formal negara.

Bagi para peneliti, pesantren adalah tanah subur. Ia menyediakan semuanya: ritus harian, sistem nilai, struktur kekuasaan, hingga dinamika ekonomi mikro. Bahkan dalam diamnya, pesantren terus berbicara. Sosiolog melihat hubungan patron-klien antara kyai dan santri. Antropolog menemukan budaya gotong royong, slametan, hingga ritual tirakat yang membentuk identitas kolektif. Peneliti pendidikan sibuk mengkaji efektivitas sistem bandongan versus pedagogi Barat.

Di era digital, observasi makin menarik. Bagaimana pesantren menghadapi gadget? Mengapa beberapa pondok melarang YouTube, sementara lainnya justru punya kanal dakwah sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini tak berhenti, karena pesantren sendiri tidak pernah selesai. Seperti air yang mengalir di sungai kecil di belakang mushola, ia menyesuaikan diri dengan zaman—tanpa kehilangan mata airnya.

Dalam kebanyakan kajian, pesantren dipahami sebagai ruang kontestasi: antara teks dan konteks, antara lokalitas dan globalitas, antara agama dan negara. Maka tak heran jika para doktor dari Universitas Harvard hingga UIN Sunan Kalijaga, berlomba-lomba menyusupkan diri ke ruang-ruang santri—merekam laku, mengurai istilah, menafsirkan simbol.

Namun yang paling menarik, pesantren bukan sekadar obyek mati. Ia hidup, merespons balik para peneliti. Kadang dengan keterbukaan, kadang dengan sindiran halus. Di beberapa pondok, kyai lebih suka disebut sebagai pengabdi ilmu ketimbang tokoh politik lokal. Di lain tempat, mereka menjadikan hasil riset sebagai bahan ngaji malam. “Kita ini diteliti terus, padahal belum tentu mereka kuat mondok seminggu,” seloroh seorang kyai.

Dengan segala keunikan itu, pesantren adalah naskah panjang yang tak selesai ditulis. Ia tak sekadar tempat belajar, tapi juga tempat memahami manusia, Tuhan, dan perubahan sosial. Maka selama masih ada pertanyaan tentang bagaimana Islam hidup dalam keseharian, pesantren akan selalu jadi laboratorium yang penuh inspirasi.[]

Bahan Bacaan:

  • Zamakhsyari Dhofier, 1994, Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES.
  • Martin van Bruinessen, 1995, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, Bandung: Mizan
  • Abdurrahman Wahid, 2001, Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren, Yogyakarta: LKiS.
  • Karel A. Steeenbrink, 1986, Pesantren: Sekolah Pendidikan Islam Dalam Kurun Modern, Jakarta: LP3ES.
  • Azyumardi Azra, 2000, Pendidikan Islam: Tradisi dan Tantangan Milenium Baru, khususnya, “Kebangkitan Sekolah Elite Muslim: Pola Baru “Santrinisasi”, Jakarta: Logos.

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Elastisitas Islam di Tengah Politik Ekspansi Sultan Agung

Ada pertanyaan yang cukup menarik dan bikin penasaran dari seorang pembaca. Bagaimana Islam dapat...