Terdengar lirih suara gamelan dan aroma wewangian yang menggantung di langit-langit keraton, tersembunyi jejak-jejak pendidikan Islam yang berumur ratusan tahun. Di masa Kesultanan Mataram, pesantren bukan hanya tempat ngaji kitab kuning, tapi juga instrumen kebudayaan dan kekuasaan. Pendidikan agama di Jawa tak pernah sekadar teks, melainkan juga tafsir dalam bentuk tembang macapat, wayang, hingga sopan santun menyuguhkan teh.
Keraton Mataram, sejak masa Sultan Agung hingga keturunannya di Yogyakarta dan Surakarta, mendukung lahirnya lembaga-lembaga pesantren yang tumbuh tak jauh dari pusat pemerintahan. Beberapa pesantren bahkan dikelola oleh keturunan bangsawan atau ulama yang memiliki darah biru spiritual: para dzurriyah Walisongo. Hubungan antara trah darah dan sanad keilmuan ini menjadi tulang punggung otoritas pesantren di era Mataram.
Tak heran bila banyak pesantren di sekitar Yogyakarta, seperti di Mlangi atau Krapyak, dibangun dalam atmosfer budaya Jawa yang sangat kental. Kitab kuning tetap dibaca, diwariskan dan dipelajari. Iringan tembang lir-ilir atau pangkur juga diperdengarkan. Ilmu fikih, tasawuf, akhlak, dan bahasa Arab diajarkan lewat sistem bandongan dan sorogan—tradisi intelektual yang lebih mirip lesehan spiritual ketimbang seminar akademik.
Di bawah bayang keraton, pesantren justru menjadi ruang di mana Islam dan budaya saling menyalami. Halaqah bisa dimulai setelah tahlilan atau selametan, diselingi kisah-kisah para wali yang disampaikan dengan intonasi puitis khas dalang. Pendidikan Islam ala Mataram bukan sekadar tentang hukum dan syariat, tapi juga bagaimana menjadi manusia yang “njawani” dan “islami” dalam satu tarikan nafas.
Kitab-kitab seperti Taqrib, Ihya Ulumiddin, dan Tafsir Jalalain dibaca dengan gaya khas lokal: sering kali ditafsirkan langsung dalam bahasa Jawa krama. Para kyai menggunakan penjelasan yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari: dari cara bertetangga, bertani, hingga sopan santun kepada orang tua. Ini bukan sekadar ilmu, tapi warisan.
Keunikan lain adalah peran para kyai yang bertindak seperti penasihat keraton. Mereka bukan hanya guru, tapi juga pemangku spiritual desa, negosiator sosial, bahkan penjaga harmoni politik lokal. Maka, pesantren-pesantren seperti ini tak jarang menjadi “keraton kecil” yang hidup yang memiliki sanad keilmuan jelas dan mendapatkan penghormatan masyarakat.
Integrasi pendidikan agama dan kebudayaan lokal ini membuat pesantren ala Mataram tahan terhadap guncangan zaman. Mereka tak mudah tercerabut oleh arus purifikasi atau modernisasi yang memaksa seragam. Justru karena fleksibilitas ini, pesantren Mataram menjadi model pembelajaran Islam yang ramah, inklusif, dan berkarakter kuat.
Kini, ketika pendidikan Islam cenderung bergeser ke arah teknokratis dan global, warisan pesantren Mataram menawarkan perspektif penting: bahwa belajar agama bisa dilakukan dengan estetika, kearifan lokal, dan cinta tradisi. Dalam diam, pesantren-pesantren tua itu masih menyalakan obor peradaban—meski keratonnya kini tak lagi punya pasukan berkuda.
Dan mungkin, dalam lirih doa santri di malam hari, masih terdengar gema suluk para wali yang dulu mengajarkan: bahwa ilmu itu bukan hanya soal hafal, tapi soal menjadi.[]
Bahan Bacaan:
Zamakhsyari Dhofier, 1994, Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES.
M.C. Ricklefs, 2013, Mengislamkan Jawa; Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 Sampai Sekarang, Jakarta: Serambi.
Martin van Bruinessen,1995, Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat, Bandung: Mizan.
Bambang Pranoto, 2010, Islam dan Keraton Jawa: Studi Transformasi Sosial Budaya, Yogyakarta: LKiS.
Mohamad Yunus, 1990, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Yogyakarta: Mutiara.
