BerandaKarya SantriArtikelTani, Tawasul, dan Tanah Wakaf: Islam dalam Ekologi Sosial Mataram

Tani, Tawasul, dan Tanah Wakaf: Islam dalam Ekologi Sosial Mataram

Dipublikasikan pada

Di hamparan sawah yang menguning di kaki pegunungan Menoreh, tak hanya tumbuh padi, tapi juga tradisi. Di wilayah bekas kekuasaan Mataram Islam, pertanian bukan sekadar urusan perut, melainkan juga urusan langit. Di sana, petani tak menanam benih sebelum mengirim doa lewat tawasul, dan tak memanen tanpa kenduri kecil dengan tumpeng dan doa selamat.

Islam datang ke tanah Jawa bukan hanya dengan kitab dan khotbah, tapi juga dengan cangkul dan saluran irigasi. Sistem pengairan tradisional berbasis wakaf banyak dibangun atas inisiatif para kyai dan bangsawan Mataram. Tanah-tanah subur yang digarap para petani tak jarang merupakan tanah wakaf pesantren atau masjid. Hasilnya? Sebagian untuk penghidupan, sebagian untuk kegiatan dakwah dan sosial.

Bersama-sama, petani, kyai, dan bangsawan membentuk rantai ekologi sosial yang unik. Kyai memberi tuntunan spiritual dan ajaran pertanian beretika, bangsawan menyediakan akses lahan atau keamanan politik, petani menjadi pelaku utama dalam produksi pangan. Tak ada garis tegas pemisah; kadang kyai juga bertani, petani jadi pengurus masjid, bangsawan jadi donatur slametan.

Dalam banyak desa agraris eks-Mataram, slametan panen menjadi perayaan spiritual yang penuh makna. Doa dipanjatkan tak hanya untuk hasil bumi, tapi juga untuk keselamatan air, tanah, dan tanaman. Ini bukan mistik, tapi bentuk teologi agraria yang mengakar. Kearifan lokal bercampur dengan ajaran Islam tasawuf yang menekankan harmoni antara manusia dan alam.

Sebagaimana ditulis M.C. Ricklefs (2013), proses islamisasi di Jawa tidak bersifat destruktif, melainkan sinkretik dan adaptif. Islam masuk lewat jalur sosial-ekologis: mengatur air, membagikan hasil bumi, dan mendampingi masyarakat. Sistem wakaf dan irigasi menjadi kendaraan dakwah yang tak terlihat, tapi mengakar dalam kehidupan.

Di pesantren, kitab kuning seperti Nihayatuz Zain dan Fiqh al-Waqf diajarkan bukan hanya dalam konteks hukum ibadah, tetapi juga sebagai panduan pengelolaan sumber daya. Tanah wakaf tidak hanya untuk masjid atau kuburan, tapi juga untuk sawah yang bisa menghidupi ratusan santri dan warga sekitar.

Menariknya, solidaritas ekonomi ini berlangsung tanpa sistem bank atau koperasi modern. Tawasul menjadi “sistem asuransi” spiritual, slametan menjadi mekanisme redistribusi sosial. Ketika panen melimpah, yang pertama disisihkan adalah zakat, sedekah, dan makanan untuk tetangga.

Sistem pertanian Islam-Mataram bukan anti-modern, tapi berbasis spiritualitas. Hubungan manusia dengan tanah adalah relasi vertikal dan horizontal: kepada Tuhan dan kepada sesama. Bagi petani Jawa, tanah bukan hanya aset, tapi amanah. Dan kyai bukan hanya pemuka agama, tapi penghubung spiritual antara langit dan ladang.

Di era industrialisasi dan pangan instan ini, warisan ekologi sosial Mataram mengajarkan bahwa keberlanjutan bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal nilai. Dalam setiap gundukan gabah dan setiap saluran air yang tenang, ada jejak doa dan wakaf. Sebuah model pertanian yang mengingatkan: bahwa bumi ini bukan untuk dikuasai, tapi untuk dijaga bersama.[]

Bahan Bacaan:

Babun Suharto, 2018, Pondok Pesantren Dan Perubahan Sosial: Studi Transformasi Kepemimpinan Kyai Pesantren, Malang: Pustaka Ilmu.
M. Falikul Isbah, 2020, Islam dan Pembangunan: Peran Pesantren dalam Pembangunan Sosial Ekonomi Masyarakat, Yogyakarta: Graha Ilmu.
M.C. Ricklefs, 2013, Mengislamkan Jawa; Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 Sampai Sekarang, Jakarta: Serambi.
Martin van Bruinessen, 1995, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, Bandung: Mizan.
Azyumardi Azra, 2000, Islam Substantif, Bandung: Mizan.
Mohamad Yunus, 1990, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Yogyakarta: Mutiara.

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Elastisitas Islam di Tengah Politik Ekspansi Sultan Agung

Ada pertanyaan yang cukup menarik dan bikin penasaran dari seorang pembaca. Bagaimana Islam dapat...