Di satu malam Jumat Legi, di halaman masjid tua sebuah desa di lereng Pegunungan Menoreh, suara gamelan mengalun halus. Seorang dalang bersarung duduk bersila, melafalkan suluk sebelum tokoh Anoman muncul dari balik kelir. Di depannya, jemaah masjid—yang tadi maghriban dan tahlilan bersama—masih bertahan di tikar pandan, bersiap menyaksikan wayang kulit semalam suntuk.
Beginilah wajah Islam di bumi Mataram: bukan sekadar ayat-ayat yang dikhatamkan di mushaf, tapi juga suara-suara yang menari dalam gending, tembang, dan kelir. Di era Mataram Islam, masjid tidak hanya jadi tempat sujud, tapi juga ruang budaya—pusat tafsir Qur’an dalam bentuk yang sangat Jawa.
Wayang menjadi medium dakwah yang efektif. Dalam lakon carangan, kisah Mahabharata diolah ulang, dimasuki nilai-nilai sufistik: kesabaran Kresna menyerupai maqam sabar dalam tasawuf, laku topo Pandawa sebagai suluk menuju insan kamil. Islam masuk bukan dengan bendera perang, tapi dengan tembang dan falsafah.
Tembang macapat, yang dilagukan dengan irama lirih oleh para pujangga dan santri, menyimpan lapis-lapis makna spiritual. Dhandhanggula, Maskumambang, hingga Pangkur, bukan cuma soal cinta atau rindu duniawi, tapi cara halus menyisipkan ajaran tasawuf. Clara van Groenendael (1985) mencatat, tembang Jawa adalah medium yang menyublimkan ajaran Sufi ke dalam bentuk yang dapat dirapal oleh rakyat kecil.
Suluk menjadi tafsir lokal atas wahyu. Dalam konteks Mataram, suluk bukan sekadar bacaan tarekat, melainkan kidung religius yang menyatukan akal, rasa, dan ruh. Para wali, dan kemudian para pujangga keraton, meracik bahasa Arab, Persia, dan Jawa dalam satu palung musikal yang bisa dinikmati sambil wedangan di gardu.
Masjid-masjid tua Mataram dibangun bukan hanya dengan estetika arsitektur Islam, tapi juga roh budaya lokal. Tak ada kubah megah seperti masjid Turki; yang ada adalah limasan, mustaka, dan ornamen ukiran yang menyimpan pesan mistis. Dalam tata ruangnya, masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi panggung wayang, tempat musyawarah warga, dan pusat kegiatan seni.
Bahkan hingga kini, masjid di desa-desa eks-Mataram seperti Mlangi atau Wonokromo, masih hidup dengan semangat itu. Imam masjid bisa jadi juga ketua karang taruna, sesekali juga jadi dalang hajatan. Khotbah Jumat bisa dilanjut dengan latihan macapat sore harinya. Tak ada dikotomi antara religius dan artistik—semuanya lebur dalam harmoni.
Estetika Islam di Mataram bukan bentuk penaklukan budaya lokal, tapi upaya dialog yang menghasilkan wajah Islam yang halus, membumi, dan menyentuh. Islam tidak kehilangan kemurniannya, tapi menemukan caranya sendiri untuk berakar dalam hati masyarakat Jawa.
Dan mungkin, dalam tembang lirih yang dilagukan di antara bayang-bayang kelir dan menara masjid, kita menemukan bahwa dakwah paling ampuh bukan yang paling keras, tapi yang paling puitis.[]
Bahan Bacaan:
- Clara van Groenendael, 1985, Tembang dan Tembang: Puisi Jawa dan Ajaran Sufi, Jakarta: Djambatan.
- M.C. Ricklefs, 2013, Mengislamkan Jawa; Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 Sampai Sekarang, Jakarta: Serambi.
- Harsya W. Bachtiar, 1993, Masjid dan Masyarakat Islam Jawa, Jakarta: LP3ES.
