Di balik megahnya tembok Kraton Mataram, sejarah tak sekadar dicatat dalam lontar dan babad, tapi hidup di antara nasi berkat, tembang macapat, dan doa tahlil yang mengalun pelan dari langgar-langgar desa. Di sana, struktur sosial bukanlah sekadar bagan vertikal antara raja dan kawula, melainkan juga kisah tentang bagaimana Islam menyusup ke dalam tatanan feodal Jawa dengan halus, sabar, dan sakral.
Kraton, dalam berbagai ungkapan sejarah, adalah poros semesta. Raja adalah titisan dewa yang belakangan menjadi “Khalifatullah.” Di sekelilingnya, abdi dalem berbusana lurik berdiri takzim, sementara para penggede duduk bersila, menanti perintah. Tapi sejak datangnya Islam—secara halus lewat Walisongo dan kokoh lewat Sultan Agung—struktur itu sedikit demi sedikit berubah nadanya.
Muncullah jabatan Penghulu Keraton, sebuah posisi strategis yang memadukan otoritas agama dan legitimasi politik. Ia bukan hanya pemimpin spiritual, tapi juga penyeimbang antara daulat raja dan syariat. Para santri dari pesantren sekitar seperti Krapyak atau Mlangi, perlahan diangkat menjadi guru ngaji para bangsawan. Mereka tidak lagi hanya menjaga masjid, tapi juga menjaga arah moral kekuasaan.
Makna santri pun sekarang meluas, bukan hanya yang mondok. Seseorang rajin tahlilan dan ngaji kitab kuning, meski petani, juga disebut santri. Dalam tatanan Mataram, santri dan rakyat kecil bertemu di ruang-ruang sosial seperti slametan, tahlil, dan zakat fitrah—ritus yang menyatukan spiritualitas dan solidaritas.
Masyarakat desa tetap tunduk pada keraton, tapi kini dibingkai nilai-nilai baru: tawadhu’, tolong-menolong, dan musyawarah. Zakat dan sedekah, yang sebelumnya tidak terlembaga, menjadi instrumen sosial baru. Jika sebelumnya bakti pada raja bersifat mutlak, kini bakti juga berarti berbagi beras di lumbung zakat atau menyisihkan hasil kebun untuk kaum fakir.
Uniknya, tidak ada pertarungan antara Islam dan budaya lokal. Yang terjadi justru simbiosis. Wayang tetap dimainkan, tapi lakonnya disisipkan kisah Nabi. Tembang macapat masih dikidungkan, tapi berisi puji-pujian pada Tuhan. Struktur sosial tetap ada, namun nilainya bergeser dari kasta menjadi moralitas.
Pesantren-pesantren pinggir keraton menjelma pusat pendidikan yang melahirkan elite spiritual. Di sana, tidak hanya diajarkan fiqh, tapi juga tata krama Jawa, etika publik, dan seni dakwah. Seorang santri bisa saja pulang dari pesantren dan menjadi penghulu, guru, atau sekadar tokoh masyarakat yang disegani.
Begitulah Mataram Islam membangun masyarakat yang bukan hanya tunduk, tapi juga terlibat. Bukan hanya hierarkis, tapi juga komunal. Dalam satu slametan, seorang abdi dalem bisa duduk sejajar dengan petani dan santri, menyantap nasi berkat dari nampan yang sama. Sebab, di hadapan Tuhan dan tembang doa, semua derajat disamaratakan.[]
Bahan Bacaan:
- Beaty Andrew, 2001, Variasi Agama di Jawa; Suatu Pendekatan Antropologi, Jakarta: Rajawali Grafindo Persada.
- Zamakhsyari Dhofier, 1982, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES.
- M.C. Ricklefs, 2013, Mengislamkan Jawa; Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 Sampai Sekarang, Jakarta: Serambi.
- Mark R. Woodward, 2016, Islam Jawa; Kesalehan Normatif Versus Kebatinan, Yogyakarta, Ircisod.
