BerandaKarya SantriArtikelAntara Tradisi Religi dan Kehidupan Sehari-hari

Antara Tradisi Religi dan Kehidupan Sehari-hari

Dipublikasikan pada

Di Kampung Mlangi, tradisi religi bukan sekadar rutinitas doa. Ritual haul dan tahlilan membaur dengan kehidupan sehari-hari, menjadikan aroma nasi beras panas dan suara alunan tahlil sebagai soundtrack desa. Bagi warga, ini bukan sekadar upacara—melainkan napas spiritual yang ditransmisikan dari generasi ke generasi.

Tahlilan di Mlangi bukan ritual monoton. Setelah bacaan doa bergema, hadir suara lembut suluk atau alunan rebana pesantren. Fasih menjadi metafora pertemuan antara nilai Islam dan warisan budaya Jawa. Studi antropologi oleh Alya Qurota Aini dan Eko Ribawati menyoroti tahlilan sebagai hasil akulturasi nilai Islam dan budaya lokal yang memperkuat harmoni warga.

Slametan, seperti tahlilan, menjadi ritual multifungsi: simbol akulturasi Islam-Jawa yang membumi sekaligus berfungsi menjaga keseimbangan sosial. Dalam kajian oleh Pianto & Yusuf (2024), slametan dipahami sebagai ritual penyatu warga—membangun kebersamaan serta menepis ketegangan dalam komunitas.

Minuman teh atau kopi yang disajikan saat haul atau slametan bukan sekadar minuman. Ia melambangkan doa bersama dan simbol kesuburan serta perlindungan. Tradisi ini menyerat makna teologi lokal: bahwa zat paling sederhana seperti air bisa menjadi sarana spiritual bagi komunitas religius seperti Mlangi.

Sajian air dan makanan ini menandai bagaimana keyakinan dan praktik beragama terintegrasi. Bagi kalangan antropolog, maupun pemerhati sosial budaya, bisa ditafsirkan seabgai semacam simbol sederhana yang bisa memuat arti mendalam tentang kesejukan spiritual dan identitas budaya.

Pada titik lain juga jadi penanda status sosial dan gotong royong—siapa pun yang datang ke haul, minimal menyumbang beras atau memasak. Ini menciptakan rasa keterikatan antartetangga, menumbuhkan ikatan moral masyarakat berbasis adat dan keagamaan yang kuat.

Namun tantangan modern juga nyata. Generasi muda yang urban dan individualistis semakin jarang merasakan ritual ini sebagai bagian penting hidup mereka. Apalagi ketika urbanisasi membuat gentrifikasi spiritual, tradisi seperti slametan jadi dipandang usang oleh beberapa warga baru atau pendatang kampung.

Meski begitu, pesantren dan kyai punya peran strategis sebagai penjaga ritual ini. Mereka menjadi mediator nilai lokal dan modernitas—memastikan haul, tahlil, dan simbol-simbol tradisi tetap hidup sebagai jembatan antara iman dan budaya.[]

Bahan Bacaan:

  • Samsul Munir Amin, 2020, “Tradisi Haul Memperingati Kematian di Kalangan Masyarakat Jawa” dalam Manarul Qur’an: Jurnal Ilmiah Studi Islam, Vol. 20 No. 2.
  • Alya Qurota Aini & Eko Ribawati, 2022, “Tradisi Tahlilan sebagai Kearifan Lokal Islam Nusantara” dalam Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial.
  • Heru Arif Pianto & Muhamad Yusuf, 2024, “Slametan: Sebuah Ritual Akulturasi Budaya Jawa dan Islam” dalam BAKSOOKA: Jurnal Penelitian Ilmu Sejarah, Sosial dan Budaya.
  • Irfan Aqiqi, 2021, Suluk Kebudayaan Indonesia: Menengok Tradisi, Pergulatan dan Kedaulatan Diri, Yogyakarta: Buku Langgar.

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Elastisitas Islam di Tengah Politik Ekspansi Sultan Agung

Ada pertanyaan yang cukup menarik dan bikin penasaran dari seorang pembaca. Bagaimana Islam dapat...