Mbah Kyai Nur Iman, sosok ulama yang dikenal sebagai salah satu pendakwah awal di wilayah Yogyakarta bagian barat-selatan, hingga kini belum sepenuhnya terdokumentasi dalam arus sejarah resmi. Padahal, pengaruh beliau terhadap perkembangan Islam kultural Jawa sangat signifikan. Di tengah geliat wisata religi dan kebangkitan lokalitas, muncul gagasan ngabudayan: mendirikan museum sejarah Mbah Kyai Nur Iman sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan keislaman berbasis kearifan lokal.
Museum ini, tentu saja, bukan sekadar ruang statis penuh benda usang, tetapi wadah edukatif dan interaktif. Konsepnya mirip living museum, seperti Wali Songo di Demak atau Sunan Kalijaga di Kadilangu, yang tidak hanya menampilkan artefak, tetapi juga menghidupkan kembali atmosfer spiritual, laku dakwah, dan nilai-nilai yang diajarkan oleh sang kyai. Sejarah tak hanya dibaca, tetapi dirasakan dan dihayati langsung oleh pengunjung dari berbagai kalangan.
Salah satu kekayaan dari Museum Mbah Kyai Nur Iman bisa berupa artefak-artefak personal, seperti sarung, kitab-kitab kuno, atau bahkan manuskrip dakwah tulisan tangan yang tersisa. Bersama diorama kehidupan dakwah beliau—seperti pengajian malam Jumat, penyebaran Islam lewat budaya, dan relasi beliau dengan tokoh adat dan masyarakat—museum ini bisa menjadi panggung kolaboratif antara sejarah dan spiritualitas.
Dalam konteks pendidikan, museum ini sangat potensial sebagai pusat pembelajaran publik. Bukan hanya untuk santri atau pelajar, tetapi juga untuk masyarakat umum yang ingin memahami wajah Islam Jawa yang penuh toleransi, santun, dan akrab dengan nilai budaya lokal. Seperti diungkap Clifford Geertz dalam The Religion of Java (2014), Islam di Jawa tidak bisa dilepaskan dari identitas budaya dan spiritualitas lokal yang hidup dan menyatu.
Museum ini juga menjadi bentuk aktualisasi kebanggaan lokal. Alih-alih hanya mengenang kyai dalam haul tahunan yang bersifat ritualistik, museum menjadikan figur beliau sebagai sumber inspirasi yang terus-menerus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Ini sekaligus menjadi strategi melestarikan budaya dalam bentuk narasi visual dan edukatif, sesuai dengan pendekatan cultural memory Jan Assmann (2011).
Dari sisi manajemen dan keberlanjutan, penting untuk melibatkan kurator pesantren yang memahami konteks sejarah dan spiritualitas Kyai Nur Iman. Disamping mayoritas kyai pesantren di Mlangi adalah keturunan beliau, mereka dapat mengisi narasi kuratorial agar tidak sekadar bersifat informatif, tetapi juga reflektif dan transformatif. Narasi ini tentu harus berbasis riset sejarah dan dokumentasi lisan dari masyarakat sekitar yang masih menyimpan kisah-kisah hidup beliau secara turun-temurun.
Kerja sama dengan Dinas Kebudayaan, kampus-kampus Islam, dan komunitas sejarah lokal dapat memperkaya isi dan aktivitas museum. Program seperti tur edukatif, pameran temporer, diskusi budaya, hingga pelatihan transkripsi naskah kuno akan menjadikan museum ini aktif dan hidup, tidak sekadar ruang mati pengawet benda lama.
Selain sebagai pusat edukasi, museum juga berpotensi besar menjadi destinasi wisata religi. Dalam konteks tren pariwisata berbasis spiritual (spiritual tourism), museum semacam ini dapat menarik peziarah, wisatawan budaya, hingga peneliti. Jika dikelola dengan profesional, museum dapat menjadi lokomotif ekonomi kreatif yang membawa manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Lebih dari itu, pendirian museum ini adalah bagian dari upaya penting untuk menuliskan kembali sejarah lokal dari perspektif bawah—bukan hanya dari narasi resmi negara atau birokrasi keagamaan. Museum menjadi ruang narasi alternatif di mana masyarakat dapat melihat dan memahami sejarah Islam tidak semata-mata dari teks formal, tapi juga dari pengalaman hidup tokoh-tokoh lokal seperti Mbah Kyai Nur Iman.
Dengan begitu, gagasan museum bukanlah peristiwa monumental belaka, melainkan bentuk konkret dari pelestarian spiritualitas, pembelajaran sejarah, dan perayaan identitas Islam Nusantara yang arif dan bersahaja. Di zaman serba digital ini, menghadirkan tokoh seperti beliau dalam “bentuk fisik” dan interaktif menjadi cara baru untuk menautkan masa lalu dengan masa depan secara bermakna dan beradab.[]
Bahan Bacaan:
- Clifford Geertz, 2014, Agama Jawa, Abangan, Santri, Priyayi, Dalam Kebudayaan Jawa, Depok, Komunitas Bambu.
- Jan Assmann, 2011, Cultural Memory and Early Civilization: Writing, Remembrance, and Political Imagination, Cambridge: Cambridge University Press.
- Saifuddin Zuhri, 2015, Ensiklopedi Kyai-Kyai Nusantara, Yogyakarta: LKiS.
- M. Mudhofir, 2020, “Peran Museum sebagai Media Edukasi Sejarah dan Kebudayaan Islam” dalam Jurnal Tsaqafah, Vol. 16 (2).
