BerandaKarya SantriArtikelMenyelaraskan Dakwah Mlangi di Era Kekinian dengan Kearifan Lokal

Menyelaraskan Dakwah Mlangi di Era Kekinian dengan Kearifan Lokal

Dipublikasikan pada

Jalan dakwah di Mlangi tak lahir dari ceruk hampa. Ia tumbuh dari tanah yang penuh laku, kidung, dan jejak para wali. Di era digital dan ketergesaan wacana keagamaan, Mlangi tetap mengakar pada irama lambat nan dalam. Di sinilah tasawuf sosial menjadi lensa utama: bahwa dakwah bukan sekadar ajakan menuju kebenaran tekstual, melainkan pelayaran batin menuju keseimbangan sosial dan spiritual (Abdurrahman Wahid, 1999).

Para kyai Mlangi merawat dakwah bukan sebagai proyek kuasa, tapi laku welas asih. Di tengah gempuran retorika yang bombastis dan hitam-putih, mereka memilih jalan sunyi—berbicara perlahan, tetapi menembus jauh. Dakwah menjadi zikir sosial: menghadirkan Islam bukan sebagai aturan semata, tapi sebagai napas hidup yang menghidupkan.

Kesadaran akan konteks lokal membuat Mlangi tak terpikat oleh formalisme agama yang mengebiri realitas. Bahasa yang digunakan halus, simbolik, penuh kiasan budaya. Kyai dan santri menyampaikan nilai Islam dengan bahasa rakyat—yang dirasakan, bukan sekadar didengar. Di sinilah dakwah Mlangi menjadi jembatan antara syariat dan kearifan (Bruinessen, 2012).

Keterhubungan dengan masyarakat menjadi inti. Dakwah tak hanya di mimbar, tapi hadir dalam kenduri, haul, selapanan, dan sowan. Tradisi ini bukan nostalgia, melainkan strategi. Dakwah menjadi bagian dari harmoni sosial, bukan agitasi yang memecah. Nilai-nilai tasawuf—tawadhu’, sabar, dan kasih—diekspresikan lewat tindakan, bukan ceramah semata.

Di tengah dominasi algoritma dan pasar konten agama, para ulama Mlangi justru menyaring modernitas. Mereka hadir di media sosial, namun tetap bersarung, tetap ngaji. Youtube, TikTok, dan Instagram menjadi ruang baru, tapi bukan untuk mengejar viral, melainkan untuk merawat makna (Hefner, 2001; Bruinessen, 2012)).

Dakwah era kekinian di Mlangi tak menolak teknologi, tapi membacanya secara ruhani. Smartphone tak lebih sakral dari mushaf, tetapi bisa menjadi wasilah. Yang membedakan adalah niat dan adab. Di sini, kyai muda Mlangi menunjukkan bahwa keberagamaan bisa kontekstual, tanpa kehilangan substansi.

Tasawuf sosial Mlangi juga menolak polarisasi. Dakwah mereka bukan untuk memisahkan yang “hijrah” dari yang belum, tetapi untuk merangkul semua dalam jalan sunyi menuju Ilahi. Kyai menjadi teladan—bukan karena pakaian atau follower-nya, tapi karena kesahajaan laku hidupnya.

Kekuatan dakwah Mlangi bukan pada volume, tapi resonansi. Mereka tahu, zaman berubah. Tapi ruh Islam yang welas asih tak lekang oleh algoritma. Kyai Mlangi mengajarkan bahwa berdakwah bukan berteriak lebih keras, tapi berbicara lebih dalam—pada hati, bukan hanya pikiran.

Di era kekinian yang serba instan, Mlangi menjadi penanda bahwa dakwah bisa tetap membumi tanpa kehilangan langitnya. Di sana, antara gending dan gawai, antara surau dan server, Islam tetap hidup—mengalir seperti sungai, tenang tapi mengubah lanskap.[]

Bahan Bacaan:

  • Abdurrahman Wahid, 1999, Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, Jakarta: Wahid Institute.
  • Bahtiar Efendi, 1998, Islam dan Negara; Transformasi Pemikiran dan Praktek Politik Islam di Indonesia, Jakarta: Paramadina.
  • Martin van Bruinessen, 2012, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, Yogyakarta: Gading Publishing.
  • Robert W. Hefner, 2001, Civil Islam; Islam Dan Demokratisasi di Indonesia, Jakarta: ISAI.

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Elastisitas Islam di Tengah Politik Ekspansi Sultan Agung

Ada pertanyaan yang cukup menarik dan bikin penasaran dari seorang pembaca. Bagaimana Islam dapat...