BerandaKarya SantriEssayPeran Perempuan dalam Lingkaran Ulama: Nyai, Ibu Nyai, dan Tradisi Ilmu

Peran Perempuan dalam Lingkaran Ulama: Nyai, Ibu Nyai, dan Tradisi Ilmu

Dipublikasikan pada

Jika dalam catatan sejarah Islam peran lelaki sering ditonjolkan sebagai poros ulama, maka di Mlangi, kisahnya bergerak dalam irama berbeda. Di balik nama besar para kyai, terdapat sosok-sosok nyai dan ibu nyai yang tidak sekadar pelengkap, melainkan simpul penting dalam transmisi ilmu, spiritualitas, dan stabilitas sosial pesantren.

Dalam konteks antropologi gender dan agama, peran perempuan pesantren di Mlangi dapat dipahami sebagai agen budaya yang menyusun ulang relasi kuasa melalui domestikasi ilmu. Mereka bukan hanya istri kiai, tapi juga guru ngaji, pengasuh santri putri, hingga pendamping dalam proses bahtsul matsail. Tradisi ini mencerminkan jejak feminisme tradisional ala pesantren (Rohmana, 2017).

Ibu Nyai memainkan peran ganda: mendidik anak-anak santri perempuan dan sekaligus menjaga nalar spiritual keluarga kiai. Pengajian kitab kuning untuk kalangan perempuan, seperti Tafsir Jalalain dan Risalah Tauhid, secara rutin diajarkan oleh mereka dalam ruang-ruang privat namun penuh pengaruh.

Antropolog seperti Nancy Smith-Hefner dalam Sunarwoto et.all (2018) mencatat bahwa perempuan pesantren adalah “negotiators of modernity”. Mereka tetap melestarikan nilai-nilai keislaman klasik sambil menjawab tantangan zaman. Di Mlangi, mereka menjadi juru tafsir nilai Islam Mataram dalam balutan kesantunan perempuan Jawa.

Kiprah nyai juga menampakkan wajah pendidikan non-formal berbasis nurture, pengasuhan. Mereka membentuk karakter santri lewat pola makan, adab tidur, hingga bagaimana menjaga akhlak dalam percakapan sehari-hari. Inilah pendidikan yang melampaui teks—berwujud laku.

Secara historis, beberapa nyai bahkan menjadi tokoh spiritual yang disegani, mewarisi sanad keilmuan suaminya. Nyai-Nyai di Mlangi bukanlah “bayangan kiai”, tetapi pelita kecil yang menyala dalam kegelapan struktur patriarkal keilmuan. Mereka menjaga kesinambungan ajaran—tanpa panggung, tapi penuh pengaruh.

Ruang domestik dalam pesantren tidaklah sekadar rumah tangga, tapi juga arena epistemik tempat tafsir agama dan relasi sosial diproduksi dan diteruskan. Dengan demikian, ibu nyai adalah kurator tradisi dan penjaga ritus yang tak terlihat, namun mengakar dalam tubuh komunitas.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa perempuan dalam pesantren tradisional bukan obyek pasif. Mereka terlibat dalam produksi budaya Islam lokal yang khas, menjahit antara teks kitab dan teks kehidupan. Di Mlangi, warisan keulamaan tidak hanya dilahirkan dari mimbar, tetapi juga dari dapur dan serambi.

Narasi ini menyanggah asumsi bahwa pesantren adalah ruang eksklusif laki-laki. Perempuan dalam pesantren, terutama Nyai Mlangi, adalah tiang ganda: guru, ibu, dan pengasuh nilai. Jika pesantren Mlangi masih tegak hari ini, bisa jadi itu karena para nyai yang diam-diam menjaga napasnya.[]

Bahan Bacaan:

  • Sunarwoto (Et. All), 2018, Islam Antara Teks, Kuasa Dan Identitas, Yogyakarta: Arti Bumi Intaran.
  • Djunaedi Rohmana, 2017, “Perempuan dalam Pesantren: Relasi Gender dan Ruang Belajar Tradisional” dalam Jurnal Teosofi, Vol. 7, No. 2.
  • Zamakhsyari Dhofier, 1982, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES.
  • Zuly Qodir, 2011, Nyai: Kiprah Perempuan Pesantren dalam Wacana Islam Kultural, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Elastisitas Islam di Tengah Politik Ekspansi Sultan Agung

Ada pertanyaan yang cukup menarik dan bikin penasaran dari seorang pembaca. Bagaimana Islam dapat...