Sekaten bukan sekadar festival. Ia adalah teks budaya yang hidup—berisi tafsir atas bagaimana Islam membumi di tanah Jawa melalui estetika, harmoni, dan negosiasi kuasa. Di balik denting gamelan dan keramaian pasar malam, Sekaten menyimpan narasi panjang tentang strategi dakwah para raja, dari Kesultanan Demak hingga Mataram Islam. Di sinilah agama tidak hadir sebagai gebrakan, melainkan sebagai ajakan: halus, perlahan, dan sangat Jawa.
Menurut sejarawan Ricklefs (2013), Sekaten pertama kali digelar oleh Raden Patah di Demak sebagai cara memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, sembari mengajak rakyat mengenal Islam melalui media yang akrab: bunyi, pasar, dan pertunjukan. Tradisi ini kemudian disempurnakan oleh Sultan Agung dari Mataram pada abad ke-17, yang memadukannya dengan ritus kerajaan untuk memperkuat posisi raja sebagai khalifatullah fil ardh.
Gamelan pusaka—Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga—yang dimainkan hanya saat Sekaten, menjadi simbol transendensi yang membumi. Dalam pandangan Clifford Geertz (2014), gamelan adalah metafora kosmos: harmoni nada menggambarkan tatanan dunia. Maka, tidak heran jika rakyat mendekati masjid saat suara gamelan ditabuh, karena suara itu adalah undangan spiritual yang dibungkus kultural.
Pasar malam yang mengiringi Sekaten bukan sekadar ladang ekonomi. Ia adalah arena sosial tempat berbagai kelas, agama, dan umur melebur dalam euforia bersama. Sekaten mengajarkan bahwa dakwah tidak harus menunduk atau menunjuk, tapi bisa dalam bentuk menonton wayang, membeli gulali, atau naik ombak banyu. Islam, dalam konteks ini, adalah perayaan, bukan ketakutan.
Namun, tidak semua orang melihat Sekaten dengan lensa yang sama. Generasi Muslim urban yang tumbuh dalam semangat purifikasi sering mempertanyakan: apakah Sekaten masih relevan secara syariat? Di sinilah letak ketegangan antropologisnya. Sekaten menjadi ruang perdebatan antara Islam normatif dan Islam kultural, antara ajaran dan adat. Tapi justru dari gesekan itu, identitas Islam Nusantara terus mengasah bentuknya.
Bagi Keraton Yogyakarta dan Surakarta, Sekaten adalah warisan, sekaligus instrumen. Ia merawat kontinuitas sejarah kerajaan, menegaskan posisi raja sebagai pelindung agama, sekaligus menjaga ingatan kolektif rakyatnya. Ini memilii irama yang serupa dengan konsep cultural performance dari Victor Turner, bahwa ritus seperti Sekaten bukan sekadar seremoni, melainkan representasi kekuasaan dan legitimasi.
Dari sudut antropologi sosial, Sekaten adalah sintesis dari tiga domain: religi, ekonomi, dan politik. Ia adalah cara Islam bernegosiasi dengan budaya lokal tanpa menghapus identitas sebelumnya. Ini membantah narasi bahwa Islam datang dengan kekerasan. Di Jawa, ia datang dengan irama, aroma dupa, dan iring-iringan gunungan.
Meski begitu, tantangan kontemporer terus mendekat. Komersialisasi, kekakuan doktrinal, dan alienasi generasi muda dari simbol-simbol tradisi bisa mengikis makna Sekaten. Maka perlu pembacaan ulang: bagaimana Sekaten tidak semata dipertahankan, tetapi dimaknai ulang sesuai zaman, tanpa kehilangan akar dan arah.
Pada akhirnya, Sekaten adalah cermin: tentang bagaimana agama bisa merangkul budaya, dan budaya memberi napas pada agama. Di tengah gejolak identitas, Sekaten mengajarkan bahwa menjadi Muslim di Jawa tidak harus kehilangan jawanya, dan menjadi Jawa tidak membuat iman luntur.[]
Bahan Bacaan:
- M.C. Ricklefs, 2013, Mengislamkan Jawa; Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 Sampai Sekarang, Jakarta: Serambi.
- Clifford Geertz, 2014, Agama Jawa, Abangan, Santri, Priyayi, Dalam Kebudayaan Jawa, Depok, Komunitas Bambu
- Santri Sahar, 2019, Kebudayaan Simbolik: Etnografi Religi Victor Turner, Sosioreligius: Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama, Vol. 4 No. 2
