BerandaKarya SantriEssayPerempuan Santri di Masa Mataram: Jejak Sunyi yang Berarti

Perempuan Santri di Masa Mataram: Jejak Sunyi yang Berarti

Dipublikasikan pada

Dalam khazanah perkembangan pesantren di era Mataram, jejak perempuan santri seringkali hadir sebagai bisikan sunyi di balik tembok ndalem dan langgar. Mereka tak selalu tercatat dalam kitab atau silsilah keilmuan formal, namun bukan berarti mereka absen dari ranah pencarian makna dan pengetahuan. Justru dalam kesunyian itulah peran mereka mengakar, memelihara ruh keislaman dalam bentuk yang lembut tapi lestari.

Di masa Mataram, pesantren berkembang sebagai simpul pendidikan Islam, tetapi ruang perempuan berada dalam sirkuit yang lebih privat. Para istri kyai berperan sebagai pendidik informal bagi para santri perempuan, terutama dalam pembelajaran Al-Qur’an, fikih dasar, dan akhlak. Di ndalem, mereka bukan sekadar ibu rumah tangga, tapi juga ibu ilmu yang diam-diam membentuk generasi Muslimah.

Tradisi pengajian perempuan mulai tumbuh dari serambi ke serambi, dari dapur hingga balai-balai. Pengajian ibu-ibu ini bukan hanya ajang sosial, tapi juga ruang tafsir domestik. Di sinilah teks-teks Islam diterjemahkan ke dalam bahasa keseharian: tentang kesabaran, kebersihan, kasih sayang, dan adab rumah tangga. Islam dibumikan lewat laku, bukan hanya lewat buku.

Dalam lingkup keraton, perempuan memiliki akses pada pengetahuan Islam melalui jalur informal yang nyaris tak tersentuh historiografi arus utama. Permaisuri dan putri raja terkadang belajar langsung kepada penghulu istana atau nyai pengasuh. Meskipun tidak berlabel santri secara formal, mereka menjadi medium penting bagi penyebaran etika Islam di lingkup elit Jawa.

Sejumlah teks sastra Jawa abad 18-19 seperti Serat Wulang Putri dan Serat Siti Doriah memuat panduan moral bagi perempuan yang bersandar pada nilai-nilai Islam. Juga teks-teks fikih perempuan yang jarang tersorot sejarah. Di sini terlihat bagaimana tafsir keislaman tidak melulu maskulin, melainkan menyesuaikan dengan ruang hidup perempuan: dapur, ranjang, dan ruang asuh.

Perempuan santri tidak berorasi di mimbar, tapi membangun fondasi dari balik layar. Mereka adalah guru bagi anak-anak, pengatur waktu ibadah keluarga, dan penjaga laku-laku syar’i dalam ruang-ruang domestik. Kearifan ini membentuk pondasi Islam kultural yang tak lekang di tengah arus zaman.

Simbolisme perempuan sebagai pemelihara tata krama juga sejalan dengan ideal Jawa tentang harmoni dan keseimbangan. Maka, perempuan santri tidak hanya menghafal ayat, tetapi juga merawat adab. Tafsir mereka tidak disampaikan lewat podium, tetapi lewat hidangan sahur, seruan subuh, atau sapaan lembut kepada anak-anaknya.

Warisan keislaman mereka berlanjut dalam tradisi nyantri di rumah: belajar dari ibu, nenek, atau tetangga yang dihormati. Dalam banyak keluarga pesantren Mataram, jalur keilmuan dari garis ibu bahkan lebih berpengaruh dalam pembentukan karakter religius. Ini adalah pengetahuan yang bersifat cair, tetapi menetap dalam kesadaran kolektif.

Antropolog Clifford Geertz menyebut bagaimana “abangan” dan “santri” berkelindan dalam praktik domestik yang kompleks, dan di sinilah peran perempuan tak bisa disingkirkan. Mereka adalah jembatan antara teks dan konteks, antara syariat dan adat, antara agama dan kehidupan.[]

Bahan Bacaan:

  • Zamakhsyari Dhofier, 1982, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES.
  • M.C. Ricklefs, 2013, Mengislamkan Jawa; Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 Sampai Sekarang, Jakarta: Serambi.
  • Mark R. Woodward, 2016, Islam Jawa; Kesalehan Normatif Versus Kebatinan, Yogyakarta, Ircisod.
  • Riri Khoriroh, 2021, Perempuan dan Islam Nusantara, dalam Laman fin,unusia.ac.id
  • Martin van Bruinessen, 2012, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, Yogyakarta: Gading Publishing.

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Elastisitas Islam di Tengah Politik Ekspansi Sultan Agung

Ada pertanyaan yang cukup menarik dan bikin penasaran dari seorang pembaca. Bagaimana Islam dapat...