BerandaMlangiMbah Kyai Nur Iman: Dari Gedhangan ke Mlangi, Jejak Bangsawan, Ulama dan...

Mbah Kyai Nur Iman: Dari Gedhangan ke Mlangi, Jejak Bangsawan, Ulama dan Wali yang Menepi

Dipublikasikan pada

Edisi Haul Mbah Kyai Nur Iman

Nama Mbah Kyai Nur Iman memang tidak sefamiliar tokoh besar Walisongo, namun jejaknya mengakar dalam lanskap spiritual Jawa. Ia bukan hanya ulama, tapi juga bangsawan yang menanggalkan gemerlap kekuasaan untuk memilih jalan sunyi: mengajar, menanam, dan menenun peradaban dari pinggiran. Dari Surabaya ke barat Yogyakarta, langkahnya menandai migrasi ilmu, bukan pelarian.

Riwayat hidup Mbah Kyai Nur Iman berkelindan dengan Pesantren Gedhangan, Surabaya, tempat ia mula-mula menimba ilmu. Di sanalah ia dilahirkan dan dibesarkan, mengakrabi kitab-kitab turats dan menyerap disiplin tarekat yang kelak menjadi fondasi spiritual Mlangi. Gedhangan bukan hanya tempat belajar, tapi juga ruang pembentukan etika intelektual dan keberanian moral.

Namun perjalanan ilmunya tak berhenti di situ. Sejarah lisan menyebut bahwa Mbah Kyai Nur Iman memiliki hubungan darah dengan lingkungan bangsawan Keraton Mataram. Tapi ia menolak hidup dalam sekat istana. Ia menepi ke barat, menyusuri daratan agraris Kulonprogo – Sleman, dan memilih Mlangi sebagai tanah tinggal sekaligus tanah tilik—tempat menilik ulang arah dakwah Islam.

Di Mlangi, ia tak mendirikan pesantren dalam pengertian besar. Ia membentuk komunitas ilmu berbasis pertanian, di mana menggarap sawah dan mengaji adalah aktivitas yang saling menyempurnakan. Ia menghidupkan Islam bukan di atas podium, tapi di jalan setapak dan pematang sawah, menjadikan kehidupan itu sendiri sebagai pesan.

Santri-santri awalnya adalah para petani, warga dusun, anak-anak pinggiran. Mereka belajar sorogan dan bandongan langsung dari Mbah Kyai Nur Iman, yang dikenal tekun dan tak menonjolkan diri. Beberapa manuskrip tafsir dan tasawuf masih tersimpan, menandakan kesinambungan sanad keilmuan, (Lihat Irwan Masduqi, 2011: Suluk Sufi Ulama Karaton Yogyakarta). Sejumlah manuskrip tulisan Mbah Kyai Nur Iman juga masih tersimpan, suatu bukti kedalaman keilmuan Mbah Kyai Nur Iman.

Dalam manuskrip tua yang ditemukan di sekitar Mlangi, tampak pengaruh kitab Ihya Ulumiddin dan Sirr al-Asrar. Ini menunjukkan Mbah Kyai Nur Iman bukan hanya faqih, tapi juga sufi. Ia merajut syariat dan hakikat dalam satu tarikan napas. Islam baginya bukan sekadar hukum, tapi laku—ngelmu kang tumindak.

Ia juga dikenal sebagai “Wali Menepi”—tokoh yang bersembunyi dari keramaian tapi menjadi cahaya bagi masyarakat sekitar. Makamnya yang kini ramai diziarahi bukan sekadar petilasan, tapi pusat spiritual. Haul beliau digelar rutin dan menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, antara warga, ulama, dan santri.

Mbah Kyai Nur Iman adalah cermin dari watak Islam Jawa yang damai, luwes, dan membumi. Ia tidak menyerukan jihad secara frontal, tapi menghidupkan ladang dan hati. Ia tidak menggempur kekuasaan, tapi membentuk nalar rakyat. Dari jalan sunyi itulah, ia membangun jejak panjang yang hari ini masih terasa getarnya.

Dalam lanskap sejarah Mataram, sosoknya mungkin hanya catatan kaki. Tapi dalam sejarah ruhani dan pendidikan Islam, ia adalah pondasi diam-diam. Di era digital kini, warisan Mbah Kyai Nur Iman mengajak kita untuk menoleh pada yang menepi—bahwa perubahan besar kadang justru lahir dari pinggiran.[]

Bahan Bacaan:

  • Zamakhsyari Dhofier, 1982, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES.
  • Martin van Bruinessen, 1995, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, Bandung: Mizan.
  • Irwan Masduqi, 2011, Suluk Sufi Ulama Karaton Yogyakarta: Ajaran Kyai Nur Iman, Yogyakarta: Assalafiyah Press.
  • Indal Abror, Aktualisasi Nilai-Nilai Budaya Masjid Pathok Negoro, dalam Jurnal Esensia, Vol 17, No. 1, April 2016.
  • M.C. Ricklefs, 2013, Mengislamkan Jawa; Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 Sampai Sekarang, Jakarta: Serambi.

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Elastisitas Islam di Tengah Politik Ekspansi Sultan Agung

Ada pertanyaan yang cukup menarik dan bikin penasaran dari seorang pembaca. Bagaimana Islam dapat...