Edisi Haul Mbah Kyai Nur Iman
Haul, dahulu adalah hening yang beraroma tanah basah dan dupa, kini menjadi tayangan 1080p dengan koneksi stabil. Dulu, jamaah datang menembus lebat hujan dan lumpur sawah untuk membaca tahlil di maqbarah seorang wali atau kiai. Sekarang, cukup dari layar ponsel, dengan jempol menggulir komentar, “Aamiin Ya Rabb.” Teknologi, seperti biasa, tak datang dengan suara keras, tapi ia mengubah segalanya.
Transformasi ritual haul menunjukkan daya lenting tradisi Islam Nusantara. Pandemi COVID-19, misalnya, yang memaksa jarak justru membuka ruang adaptasi: contohnya, haul Kyai Hasyim Asy’ari disiarkan lewat YouTube NU Channel; haul KH Maimoen Zubair menjaring jutaan penonton lewat TikTok Live dan Instagram. Panitia yang dulu sibuk mengatur alas terpal dan hidangan tumpeng kini tak kalah sibuk mengatur bitrate dan kamera stabilizer.
Tentu, ini bukan sekadar teknis. Ini pergeseran epistemologis. Haul bukan lagi hanya soal hadir di lokasi, tapi hadir dalam jaringan makna baru. Orang-orang yang tak pernah bisa datang ke Sarang, Jombang, atau Kedunglo kini bisa ‘mengaji‘ dari kamar kos. Tafsir haul meluas: dari ziarah ke layar, dari tabarruk ke keterhubungan digital. Zaman memaksa, tapi ruh tradisi tak hilang.
Media sosial pun dihayati bukan sebagai ancaman, tapi alat dakwah. Pondok-pondok pesantren membuat tim dokumentasi, akun Instagram resmi, bahkan subscriber–based streaming di YouTube. Haul kini punya poster digital, countdown, dan link donasi. Di titik ini, teknologi tak hanya sebagai kanal, tapi menjadi bagian dari “ritus”—terstruktur dan penuh niat.
Namun, perubahan ini bukan tanpa kritik. Sebagian kiai sepuh masih menekankan pentingnya sowan, adab fisik dalam haul. Menyentuh maqam, mendengar langsung dawuh, dan merasakan barakah dari interaksi langsung. Maka lahirlah kompromi: live streaming tetap ada, tapi prosesi tahlil utama tetap dilaksanakan terbatas, offline. Hybrid haul menjadi solusi sakral di era serba digital.
Di sisi lain, banyak jamaah muda justru merasa terhubung secara spiritual lewat haul daring. Interaksi via komentar, fitur “donasi”, hingga pemutaran ulang ceramah menjadi bentuk ziarah kontemporer. Haul tak lagi eksklusif milik yang bisa datang fisik, tapi menjadi milik semua yang tersambung—dari pelosok Merauke hingga buruh migran di Taiwan.
Perubahan ini juga memperluas fungsi haul: dari hanya mengenang, kini juga mendidik dan menyiarkan nilai-nilai. Ceramah haul bisa diklip menjadi konten edukatif, dikutip media, dan dibahas ulang dalam podcast. Sebagaimana dicatat Rizal et al. (2021) dalam Digital Religion in Indonesia, bentuk ibadah digital seperti haul daring menciptakan “komunitas iman” yang tak terikat ruang.
Meskipun digitalisasi haul bisa dianggap sebagai “pergeseran makna”, namun lebih tepat disebut sebagai evolusi praktik. Seperti tradisi Islam Nusantara lainnya, haul telah terbukti lentur. Ia pernah menyatu dengan seni, arak-arakan, selametan, dan kini: bandwidth dan buffer. Tapi esensinya tetap: doa, ingatan, dan berkah.
Karena itu, haul bukan hanya peristiwa, tapi narasi. Ia menarasikan kesetiaan pada guru, pada tradisi, dan pada laku spiritual yang terus berubah rupa, tapi tidak makna. Dari sawah ke server, dari terpal ke layar, haul tetap hidup—dengan syahdu yang kini bisa di-screenshot.[]
Bahan Bacaan:
- S. Rizal, & M. Hasyim, 2021, Digital Religion in Indonesia: Expressions of Faith in Online Spaces, Journal of Indonesian Islam, Vol. 15 (2).
- J. Howell, 2001, Sufism and the Indonesian Islamic Revival, Journal of Asian Studies.
- A. Zamhari, 2010, Rituals of Islamic Spirituality: A Study of Majlis Dhikr Groups in East Java, Canberra: ANU E Press.
- Martin van Bruinessen, 2002, Pesantren dan Kitab Kuning: Pemeliharaan dan Kesinambungan Tradisi Pesantren, Jakarta: Jurnal Ulumul Qur’an, Vol.III, No.4.
