BerandaBeritaLokalUMKM Mlangi: Dari Mesin Obras ke Oleh-Oleh Islami

UMKM Mlangi: Dari Mesin Obras ke Oleh-Oleh Islami

Dipublikasikan pada

Jangan salah sangka, Mlangi bukan sekadar destinasi bagi pencari ketenangan spiritual atau penggemar salawat berirama rebana. Di balik pagar pondok dan deretan warung bakso santri, ada geliat ekonomi mikro yang pelan tapi pasti merangsek naik: UMKM konveksi dan souvenir. Siapa sangka, kampung santri ini bisa jadi pusat jahit-menjahit dan oleh-oleh berbumbu Islami?

Sejak lama, Mlangi dan tetangganya, Dusun Sawahan, menjahitkan napasnya lewat konveksi. Mulai dari kaos dakwah, gamis syar’i, sampai kain ecoprint yang lebih ramah lingkungan ketimbang tetangga sebelah yang buang limbah sembarangan. Produk konveksi di sini bukan cuma pakaian, tapi juga bentuk ekspresi budaya yang terukur presisi: lurus di tengah, benangnya rapi, dan pesan dakwahnya tak melenceng.

Menariknya, para pelaku UMKM di sini bukan lulusan Harvard Business School. Mereka adalah ibu-ibu rumah tangga, santri yang nyambi jahit, dan bapak-bapak yang lebih suka pegang meteran ketimbang gadget. Modal mereka? Percaya diri, koneksi pesantren, dan tekad baja setebal jarum bordir. Pemasarannya pun nyeleneh tapi jitu: siapa yang beli seragam haul, dapat diskon batik ecoprint buat mertua.

Dinas Koperasi dan UKM Sleman pun tak tinggal diam. Mereka menyulap para pengusaha kecil ini jadi peserta workshop, pameran, sampai pemburu sertifikasi halal. Produk-produk Mlangi bahkan mejeng gagah di Fesval Mlangi 2025, berdampingan dengan booth UMKM lain dari Mlangi. Di tengah keramaian itu, konveksi Mlangi menyusup pelan, tapi bikin orang berhenti dan beli.

Tak kalah menarik adalah lini UMKM souvenir. Dari gantungan kunci berbentuk masjid sampai kaligrafi ayat kursi yang cocok jadi kado nikahan, semua ada. Kain ecoprint? Ada. Aksesori nuansa Islami? Tentu. Bahkan paket wisata edukasi ala Desa Wisata Mlangi kini menyelipkan workshop bikin batik dan kaligrafi. Wisatawan pulang tak cuma bawa kenangan, tapi juga oleh-oleh yang bisa ditaruh di etalase ruang tamu.

Produk-produk ini tak hanya mandek di kios pinggir jalan. Sebagian malah sudah masuk etalase Malioboro, bersaing dengan kaos Obralan dan lukisan wajah Presiden. Platform online seperti Slemanmart pun membantu UMKM lokal tampil gaya di era digital. Dari “santri tukang jahit” jadi “pelaku usaha berbasis komunitas digital”—judul yang tak bisa diremehkan oleh SEO Google sekalipun.

Dukungan pemerintah memang terasa, tapi tak berarti jalan mereka mulus seperti hasil setrika laundry kilat. Pandemi sempat memukul omset, apalagi saat West Lagoon ditutup dan arus wisatawan seret. Skala usaha yang kecil bikin UMKM harus jungkir balik di hadapan pasar yang kejam. Belum lagi PR besar: melek digital dan desain produk yang tak cuma ‘islami’, tapi juga ‘instagramable’.

Padahal, potensi mereka luar biasa. Bayangkan: 17 pesantren, ribuan santri, dan tamu dari berbagai daerah—bahkan luar negeri—semuanya adalah pasar berjalan. Pelatihan desain dan pemasaran digital bisa jadi jalan tol buat tembus pasar nasional, bahkan global. Tentu, jika niat dan strategi tak cuma berhenti di rapat RT.

Singkatnya, Mlangi tak hanya punya irama rebana yang menghentak dada, tapi juga detak mesin obras yang pelan tapi konsisten. Dari konveksi hingga souvenir, dari keterampilan tangan hingga pemasaran digital, UMKM Mlangi adalah bukti bahwa ekonomi kerakyatan bisa lahir dari rahim kampung santri. Tentu, dengan sedikit jahitan rapi dan banyak tekad berbasis iman.[]

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Artikel Terkait

Pertanian, Pajak dan Kekuasaan: Beginilah Ekonomi Mataram Islam Lebih Stabil

Di tengah pusaran genderang perang dan panji-panji perlawanan, Sultan Agung tak hanya membidani kekuatan...

Perjalanan Kembali ke Nusantara: Membawa Ide-Ide Baru dan Pencerahan

Bagian Ketiga dari Tiga Artikel Tulisan ini berdasarkan empat buku referensi utama, Henri Chambert-Loir (2013),...

Mlangi: Sebuah Pesantren, Laboratorium Spiritual dan Pendidikan Nusantara

Berkunjunglah ke Mlangi, dusun kecil di tepi barat ringroad, Sleman. Di dusun yang asri...

Elastisitas Islam di Tengah Politik Ekspansi Sultan Agung

Ada pertanyaan yang cukup menarik dan bikin penasaran dari seorang pembaca. Bagaimana Islam dapat...