Kaligrafi di Yogyakarta bukan sekadar tulisan indah yang menempel di dinding masjid. Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang peradaban Islam yang berbaur manis dengan budaya Jawa. Dari yang dulunya sekadar penulisan ayat suci, kaligrafi kini menjelma jadi media ekspresi budaya, spiritualitas, bahkan seni kontemporer yang mendunia. Yogyakarta, kota dengan jiwa seni tinggi, menjadikan kaligrafi lebih dari sekadar estetika—ia adalah identitas.
Seni kaligrafi mulai mendapat tempat di Yogyakarta sejak abad ke-16, seiring masuknya Islam lewat jalur kerajaan dan dakwah para wali. Kala itu, kaligrafi dipakai buat hal-hal yang sangat sakral: penulisan Al-Qur’an, kitab kuning, atau hiasan batu nisan. Huruf Arab Pegon (Arab versi lokal) pun booming, jadi sarana belajar ngaji di pesantren-pesantren. Tapi sejak awal, kaligrafi ini sudah berbaur dengan gaya Jawa—nggak kaku, tetap luwes.
Begitu Kesultanan Yogyakarta berdiri, kaligrafi makin diangkat kelasnya. Ia tak lagi hanya eksis di masjid, tapi juga nampang di keraton. Tentu saja, gaya tulisannya nggak plek ketiplek kayak di Timur Tengah. Huruf Arabnya dimodifikasi biar selaras sama ornamen Jawa: sulur-suluran, motif flora, hingga lekukan khas batik. Jadilah seni kaligrafi yang bisa saja bikin orang awam nggak nyadar kalau itu sebenarnya ayat suci.
Lihat aja Masjid Gedhe Kauman. Di situ, kaligrafi Arab berpadu cantik dengan arsitektur atap joglo. Atau tengok ukiran di Keraton Yogyakarta—kaligrafinya bisa bikin bingung: ini kaligrafi atau motif hias klasik? Akulturasi budaya Islam dan Jawa tampil lembut tapi kuat. Bahkan sampai batik pun kena sentuhan: ada motif parang yang dipadu dengan tulisan “Allah” atau “Muhammad.” Seni rupa jadi ladang tafsir.
Masuk era kontemporer, sekitar tahun 1976 ke atas, kaligrafi di Yogyakarta mulai keluar jalur. Tapi tenang, ini keluar jalur yang bagus. Para seniman mulai bereksperimen. Mereka nggak lagi terkungkung dalam gaya Naskhi atau Tsuluts. Muncul gaya “Syaifuli”—dinamai dari seniman Syaiful Adnan—yang bikin kaligrafi jadi ekspresif, penuh warna, dan kadang abstrak. Kaligrafi jadi media perlawanan, juga bentuk pencarian spiritual.
Kaligrafi nggak cuma muncul di kertas atau kanvas. Ia juga merambah batik, kaca, bahkan instalasi. Para seniman muda Jogja banyak yang ikut gelaran pameran, baik lokal maupun internasional. Di galeri seni, ayat Al-Qur’an tampil dengan gaya yang bisa bikin kamu terkesima atau mikir dua kali: ini seni, dakwah, atau keduanya? Dan dari sinilah Yogyakarta mulai dikenal sebagai salah satu pusat seni kaligrafi kontemporer di Indonesia.
Lalu, di mana sih kaligrafi tertua Jogja ditemukan? Sampai hari ini, belum ada satu temuan yang sahih dan tunggal. Tapi jejaknya bisa dilacak lewat batu nisan di kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri, atau manuskrip Pegon di pesantren-pesantren tua. Tulisan-tulisan ini memang sederhana, tapi dari sanalah tradisi seni kaligrafi mulai tumbuh di tanah Jawa.
Uniknya, kaligrafi di Jogja jarang ditemukan dalam bentuk ukiran batu layaknya di Gowa atau Ternate. Kaligrafi Jogja lebih “halus”—mengendap dalam manuskrip, dekorasi, dan arsitektur. Mungkin karena budaya Jawa memang cenderung subtil: mengajarkan tanpa menggurui, menyampaikan makna lewat simbol dan estetika.
Jadi, kalau kamu pikir kaligrafi cuma buat pelajaran madrasah atau hiasan dinding toko kitab, coba mampir ke Yogyakarta. Di kota ini, kaligrafi adalah bahasa rasa, perjumpaan antara iman dan budaya, serta bentuk ekspresi yang terus hidup dan berevolusi. Dari joglo hingga galeri seni, dari batu nisan hingga batik, kaligrafi di Jogja menunjukkan bahwa tulisan bisa punya jiwa.[]
